Media PilarNTB.com -- Di bawah naungan langit Bima, setiap jengkal pembangunan bukan sekadar tumpukan batu, kayu, atau beton. Bagi seorang visioner seperti Dr. Taufiqurrahman, ST., M.Si, arsitektur adalah naskah hidup; sebuah warisan yang menghubungkan hikmah masa lalu dengan impian masa depan. Di setiap sudut Kota Bima, bangunan berdiri bukan hanya sebagai peneduh fisik, melainkan sebagai cerminan jiwa masyarakat Dou Labo Dana Mbojo.
Maja Labo Dahu: Tulang Punggung Peradaban
Nilai utama yang ditekankan oleh Dr. Taufiqurrahman dalam memandang pembangunan adalah falsafah Maja Labo Dahu. Rasa malu untuk berbuat salah dan rasa takut untuk melanggar kebenaran menjadi fondasi moral dalam setiap kebijakan tata ruang. Baginya, keindahan sebuah kota tidak hanya diukur dari kemegahan fisiknya, tetapi dari seberapa mulia manfaatnya bagi kemaslahatan sesama. Arsitektur yang beradab adalah arsitektur yang jujur dan melayani.
Harmoni Iman dan Budaya di Amahami
Simbolisme ini terlihat nyata di kawasan Amahami. Berdirinya tempat ibadah yang ikonik di atas air menggambarkan bahwa keyakinan adalah penopang yang tak tergoyahkan di tengah gelombang kehidupan. Dengan atap yang menyerupai puncak Uma Lengge, bangunan ini melambangkan perjalanan iman menuju kesempurnaan. Dr. Taufiqurrahman melihat ini sebagai bukti bahwa modernitas dan agama tidak menghapus jati diri, melainkan menjadi penyempurna jalan hidup masyarakat Bima.
Asi Mbojo dan Marwah Rakyat
Warisan sejarah Asi Mbojo mengajarkan kita tentang keterbukaan yang bermartabat. Perpaduan gaya tradisional, corak Islam, dan sentuhan dunia luar menunjukkan bahwa Bima adalah kota yang terbuka bagi perubahan tanpa harus kehilangan akar. Lantai yang menjulang tinggi di atas tanah bukan sekadar estetika, melainkan harapan agar harkat, martabat, dan kehormatan rakyat senantiasa terjaga dan terangkat dalam setiap proses pembangunan.
Uma Haju: Persatuan Tanpa Paksaan
Dalam perspektif teknis dan filosofis yang diusung Dr. Taufiqurrahman, rumah panggung (Uma Haju) adalah mahakarya rekayasa sosial. Tanpa sepotong paku logam, ia berdiri kokoh hanya dengan pasak dan ikatan. Ini adalah simbol persatuan yang kuat—bukan karena paksaan, melainkan karena kepercayaan dan kasih sayang yang saling mengunci. Tata ruangnya, mulai dari Wombo hingga Pamoka, menggambarkan kehidupan yang teratur, bertanggung jawab, dan visioner dalam menjaga ketahanan pangan serta keharmonisan keluarga.
Maju Boleh, Hati Tetap Mbojo
Zaman boleh berganti, bangunan modern boleh bermunculan, namun bagi Dr. Taufiqurrahman, ST., M.Si, roh Arsitektur Mbojo tidak boleh sirna. Pembangunan Kota Bima saat ini adalah wujud dari kekuasaan yang melayani. Jalan yang terbuka lebar dan ruang lapang yang terjaga adalah janji akan keadilan bagi seluruh Dou Labo Dana Mbojo.
Kita sedang membangun lebih dari sekadar kota; kita sedang membangun sebuah "Rumah Besar" yang damai, bermartabat, dan selamanya akan menjadi tempat pulang yang paling nyaman bagi anak cucu kita. Karena pada akhirnya, setinggi apa pun kita melaju, hati kita harus tetap menetap di tanah leluhur—menjadi pribadi yang maju, namun tetaplah Mbojo.

Posting Komentar