Bima media PilarNTB.com– Kabupaten Bima bukan sekadar wilayah administratif di peta Nusa Tenggara Barat. Ia adalah ruang hidup yang terbentang luas dari pesisir Sape hingga kaki Gunung Tambora. Setiap jengkal tanahnya menyimpan kisah, nilai, dan jejak peradaban yang telah tumbuh selama berabad-abad. Di tengah arus modernisasi dan kebutuhan pembangunan yang makin meningkat, Dr. Taufiqurrahman, ST., M.Si. membawa sebuah gagasan besar: Pembangunan Bermartabat dengan Pendekatan Spasial.
Konsep yang diusung oleh Dr. Taufiqurrahman ini bukan sekadar slogan, melainkan jawaban strategis agar kemajuan tidak harus menumbangkan identitas. Menurutnya, tata ruang tidak boleh dibangun semata demi angka ekonomi, melainkan untuk menjaga, merawat, dan mengangkat harkat martabat tanah leluhur. Pembangunan Bermartabat (Dignified Development) bukan hanya soal merencanakan program secara teknis, tetapi tentang bagaimana masyarakat mendapatkan perlindungan, kesamaan hak, dan memperoleh kehidupan yang layak untuk mencapai kesejahteraan sejati.
Lebih lanjut, Dr. Taufiqurrahman menekankan pentingnya pembangunan berbasis "spatial emphasize" dengan mempertimbangkan karakteristik unik dalam setiap proses perencanaan. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa objek yang direncanakan memiliki potensi, problem, dan kebutuhan yang spesifik. Dengan pendekatan ini, perencanaan pembangunan diyakini akan lebih tepat sasaran dan lebih optimal dalam pengembangan wilayah.
Dalam pandangannya, sebuah perencanaan membutuhkan analisa dan kajian secara holistik, bukan sekadar menyusun narasi program di atas kertas. Isu strategis harus menjadi landasan utama. Ia menegaskan bahwa perencanaan pembangunan tidak boleh didasarkan pada keinginan (desire), melainkan harus berdasarkan kebutuhan (need).
Menariknya, Dr. Taufiqurrahman menyitir filosofi Islam dalam prinsip perencanaan ini: "Allah tidak akan memberikan apa yang kita inginkan, tapi Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan." Begitu pula dengan pembangunan di berbagai sektor; pemerintah harus melihat kebutuhan wilayah secara spasial dalam rangka merumuskan kebijakan yang mampu mengurangi kesenjangan serta mempercepat pembangunan wilayah secara merata.
Kabupaten Bima memiliki keragaman ruang yang unik. Dr. Taufiqurrahman memetakan bahwa pembangunan harus disesuaikan dengan fungsi alamnya: wilayah pesisir dikembangkan sebagai pusat ekonomi kelautan yang ramah lingkungan, sementara dataran tinggi dan pegunungan diposisikan sebagai penyangga pangan dan kawasan konservasi alam. Semuanya harus terhubung dalam satu sistem tata ruang yang adil—tidak meminggirkan wilayah pedalaman dan tidak merusak ekosistem pesisir.
Pembangunan Bermartabat Berbasis Spasial ini adalah bukti nyata bahwa kemajuan sejati diraih ketika masa depan dibangun dengan ide dan tangan sendiri, namun tetap menunduk hormat pada jejak masa lalu. Inilah jalan panjang yang ditawarkan Dr. Taufiqurrahman, ST., M.Si. untuk membentangkan tangan penuh kasih menuju "Bima yang Bermartabat."

Posting Komentar