BIMA, PilarNTB.com — Ancaman penutupan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Waduwani, Kabupaten Bima, kini menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus membenahi sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.

Selama bertahun-tahun, pengelolaan sampah di Kabupaten Bima masih banyak bertumpu pada pola konvensional: sampah dikumpulkan, diangkut, kemudian ditumpuk di tempat pembuangan akhir. Pola yang dikenal sebagai end-of-pipe tersebut dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi volume sampah yang terus meningkat serta tuntutan pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Pandangan tersebut disampaikan Dr. Taufiqurrahman, ST., M.Si., C.SPP, seorang doktor bidang lingkungan dan ahli perencanaan strategis. Menurutnya, persoalan sampah Kabupaten Bima tidak dapat diselesaikan hanya dengan memperkuat armada pengangkutan atau memperluas tempat pembuangan.

"Persoalan sampah harus diselesaikan sejak dari sumbernya. TPA seharusnya menjadi tempat terakhir bagi residu yang memang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali," demikian gagasan utama yang dikedepankan dalam konsep transformasi pengelolaan sampah melalui Program SAKAKA RASA.

Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa Kabupaten Bima menghasilkan sekitar 244,61 ton sampah setiap hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 74,40 ton per hari disebut masih berakhir di TPA Waduwani.

Sementara itu, sebagian besar sampah lainnya berpotensi tersebar di berbagai lingkungan apabila tidak ditangani melalui sistem pengurangan dan pengelolaan dari sumber.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa persoalan sampah bukan semata-mata persoalan kapasitas TPA. Lebih jauh, persoalannya terletak pada sistem pengelolaan yang belum sepenuhnya mampu melakukan pemilahan, pengurangan, pengolahan, serta pemanfaatan sampah sejak dari rumah tangga.

Apabila seluruh sampah terus diarahkan ke TPA, maka beban terhadap fasilitas tersebut akan semakin besar. Sebaliknya, apabila sampah dipilah sejak dari sumber, maka volume sampah yang harus dibawa ke TPA dapat ditekan secara signifikan.


Selama ini, pola pengelolaan sampah cenderung menempatkan pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab terhadap sampah masyarakat.

Sampah dari rumah tangga dikumpulkan, kemudian diangkut menggunakan armada dan dibawa menuju TPA. Setelah berada di lokasi akhir, persoalan seolah dianggap selesai.

Padahal, pendekatan tersebut hanya memindahkan persoalan dari satu tempat ke tempat lain.

Konsep SAKAKA RASA menawarkan perubahan paradigma. Pengelolaan sampah tidak lagi dimulai ketika sampah tiba di TPA, tetapi dimulai sejak sampah dihasilkan dari rumah tangga, sekolah, pasar, perkantoran, tempat usaha, hingga lingkungan desa.

Dengan pendekatan tersebut, masyarakat tidak hanya menjadi penghasil sampah, tetapi juga menjadi bagian penting dari solusi.


SAKAKA RASA merupakan akronim dari Sadar, Aksi, Kolaborasi, Reduksi, Sampah.

Kelima unsur tersebut menjadi fondasi untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi.

Pertama, Sadar. Masyarakat didorong untuk memahami bahwa sampah bukan semata-mata persoalan pemerintah. Setiap rumah tangga memiliki tanggung jawab untuk mengurangi dan memilah sampah sejak dari sumbernya.

Kedua, Aksi. Kesadaran harus diwujudkan melalui tindakan nyata, seperti memilah sampah organik dan anorganik, mengolah sisa makanan menjadi kompos, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta membiasakan penggunaan barang yang dapat dipakai berulang kali.

Ketiga, Kolaborasi. Pengelolaan sampah membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah Kabupaten Bima, Dinas Lingkungan Hidup, kecamatan, pemerintah desa, sekolah, dunia usaha, pasar, komunitas, organisasi masyarakat hingga rumah tangga harus bergerak dalam satu sistem.

Keempat, Reduksi. Sampah yang masuk ke sistem harus dikurangi sejak dari sumbernya. Semakin sedikit sampah yang dihasilkan dan semakin banyak yang dimanfaatkan kembali, semakin kecil pula beban terhadap TPA.

Kelima, Sampah. Sampah harus dipandang bukan hanya sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga sebagai material yang sebagian masih memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Sampah anorganik yang memiliki nilai dapat dikumpulkan melalui bank sampah untuk kemudian dipilah dan didaur ulang. Sementara sampah organik dapat diolah menjadi kompos atau produk lain yang bermanfaat.

Dengan demikian, hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang pada akhirnya dibawa menuju tempat pemrosesan akhir.


Dalam perspektif tersebut, persoalan TPA Waduwani tidak semestinya hanya dipandang sebagai ancaman terhadap keberlangsungan pembuangan sampah.

Sebaliknya, kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi Kabupaten Bima untuk melakukan perubahan fundamental dalam sistem pengelolaan sampah.

Ketergantungan terhadap TPA harus dikurangi secara bertahap. Pemerintah tidak cukup hanya menambah armada pengangkut atau memperbesar kapasitas tempat pembuangan. Investasi juga perlu diarahkan pada pengurangan sampah, fasilitas pemilahan, pengolahan organik, bank sampah, edukasi masyarakat, serta penguatan sistem pengelolaan di tingkat desa.


Membangun kebiasaan memilah sampah membutuhkan edukasi, keteladanan, konsistensi, fasilitas yang memadai, serta sistem yang memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.

Karena itu, keberhasilan SAKAKA RASA tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada sejauh mana masyarakat bersedia menjadikan pengelolaan sampah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.


Persoalan sampah pada akhirnya bukan hanya persoalan TPA Waduwani. Ini merupakan persoalan bersama yang berhubungan langsung dengan kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, ekonomi, dan masa depan generasi berikutnya.

Pemerintah Kabupaten Bima telah melakukan sejumlah langkah, termasuk mendorong penguatan anggaran, mengusulkan dukungan kepada pemerintah pusat, serta mendorong jajaran pemerintahan untuk mulai menerapkan pemilahan sampah.

Namun kebijakan tidak akan berjalan maksimal tanpa perubahan perilaku masyarakat.

Karena itu, gagasan SAKAKA RASA menempatkan rumah tangga sebagai titik awal perubahan.

Jika setiap rumah tangga mulai mengurangi, memilah, dan mengolah sampahnya, maka perubahan tidak lagi menjadi sekadar program pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama masyarakat Kabupaten Bima.

Pada akhirnya, persoalan sampah bukan hanya tentang bagaimana mempertahankan sebuah TPA agar tetap beroperasi. Lebih dari itu, persoalannya adalah bagaimana Kabupaten Bima membangun sistem pengelolaan lingkungan yang mampu bertahan dalam jangka panjang.

SAKAKA RASA menawarkan satu arah perubahan: dari membuang menjadi mengelola, dari menumpuk menjadi mengurangi, dan dari bekerja sendiri menjadi bergerak bersama.

Satu rasa, satu tekad, bersama menjaga Bima.



BIMA, pilarNTB.com — Kondisi sarana dan prasarana pendidikan di SD Negeri Runggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, mendapat perhatian serius dari pihak sekolah. Kepala SDN Runggu, Bambang, S.Pd., bersama keluarga besar sekolah menyampaikan surat terbuka kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, sebagai bentuk ikhtiar untuk mendorong perhatian pemerintah terhadap kondisi ruang kelas yang dinilai membutuhkan perbaikan.

Surat terbuka tersebut disampaikan pada 26 September 2026, dengan membawa harapan agar pemerintah pusat dapat memberikan perhatian terhadap kebutuhan sarana pendidikan di SDN Runggu, khususnya terhadap sejumlah ruang kelas yang kondisinya sudah tidak layak digunakan secara optimal.

Dalam surat tersebut, pihak sekolah menegaskan bahwa persoalan sarana pendidikan bukan semata-mata menyangkut kondisi fisik bangunan. Kondisi ruang belajar yang kurang memadai juga berkaitan dengan aspek keamanan, kenyamanan, kesehatan, serta kualitas proses pembelajaran bagi peserta didik dan guru.

SDN Runggu menjadi salah satu tempat penting bagi anak-anak di wilayah Runggu untuk mendapatkan pendidikan dasar, membangun karakter, mengembangkan potensi, serta mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Di tengah keterbatasan tersebut, para guru dan peserta didik tetap berupaya menjalankan kegiatan belajar mengajar. Namun, pihak sekolah berharap kondisi bangunan yang membutuhkan perhatian tidak menjadi hambatan bagi anak-anak dalam memperoleh hak mereka atas pendidikan yang aman, nyaman, layak, dan bermutu.



Melalui surat terbuka itu, Kepala SDN Runggu bersama keluarga besar sekolah meminta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI beserta jajaran terkait agar dapat memberikan perhatian terhadap kondisi sarana dan prasarana sekolah.

Pihak sekolah juga berharap pemerintah dapat melakukan verifikasi atau peninjauan langsung terhadap kondisi bangunan SDN Runggu, sehingga kebutuhan rehabilitasi maupun pembangunan ruang kelas dapat diketahui secara objektif sesuai kondisi di lapangan.

Adapun beberapa permohonan yang disampaikan dalam surat terbuka tersebut, yakni perhatian terhadap kondisi sarana dan prasarana SDN Runggu, verifikasi kondisi bangunan sekolah, dukungan program rehabilitasi dan/atau pembangunan ruang kelas sesuai kebutuhan, serta dukungan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, sehat, dan layak bagi peserta didik maupun tenaga pendidik.

“Kami tidak hanya berbicara tentang bangunan, tetapi tentang masa depan anak-anak,” demikian semangat yang menjadi dasar penyampaian surat terbuka tersebut.

Pihak sekolah berharap perhatian pemerintah terhadap SDN Runggu dapat menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi peserta didik di daerah.

Menurut keluarga besar SDN Runggu, setiap ruang kelas yang diperbaiki bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar, tumbuh, dan mengejar cita-cita mereka.

Surat terbuka tersebut ditandatangani atas nama Keluarga Besar SD Negeri Runggu, yang terdiri dari Kepala Sekolah, guru, komite sekolah, orang tua/wali peserta didik, serta masyarakat.

Melalui surat tersebut, keluarga besar SDN Runggu menyampaikan harapan agar pemerintah dapat melihat langsung kondisi sekolah dan memberikan solusi sesuai kebutuhan, sehingga proses pendidikan di SDN Runggu dapat berlangsung dalam lingkungan yang lebih aman, nyaman, dan layak.

“Pendidikan bukan hanya tentang membangun gedung, tetapi membangun manusia dan masa depan bangsa.”


Penulis: Jubair ar-Qamar

Pimpinan redaksi 

Media PilarNTB

 


DONGGO, Media PilarNTB.com— Puskesmas Donggo terus mendorong penguatan perhatian terhadap kesehatan psikologis di lingkungan pendidikan melalui kegiatan fasilitasi pelaksanaan First Aider Pertolongan Pertama Luka Psikologis (P3LP) bagi satuan pendidikan jenjang SMP dan SMA di wilayah kerja Puskesmas Donggo, Rabu (23/09/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas lingkungan sekolah dalam memberikan respons awal terhadap peserta didik yang menghadapi persoalan psikologis, tekanan emosional, maupun kondisi yang membutuhkan perhatian dan pendampingan lebih lanjut.

Kepala Puskesmas Donggo, Sri Hartati, S.Kep., Ns., menekankan pentingnya membangun lingkungan sekolah yang mampu memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis peserta didik. Menurutnya, kesehatan siswa tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan emosional. Jelasnya

Melalui kegiatan First Aider P3LP, pihak sekolah diharapkan memiliki pemahaman dan keterampilan dasar untuk mengenali tanda-tanda awal permasalahan psikologis pada siswa, memberikan dukungan awal secara tepat, serta mengetahui langkah yang perlu dilakukan apabila seorang siswa membutuhkan penanganan atau rujukan kepada tenaga profesional.

Pendekatan tersebut penting mengingat sekolah merupakan salah satu lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Guru dan tenaga pendidik memiliki kesempatan untuk melihat perubahan perilaku maupun kondisi emosional siswa sehingga dapat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dan penanganan sejak dini.

Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat sinergi antara Puskesmas Donggo dan satuan pendidikan tingkat SMP maupun SMA dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, suportif, dan memberikan ruang bagi peserta didik untuk mendapatkan bantuan ketika menghadapi persoalan.

Dengan adanya fasilitasi First Aider P3LP, Puskesmas Donggo berupaya memperluas pemahaman bahwa pertolongan pertama tidak hanya diberikan ketika seseorang mengalami luka secara fisik, tetapi juga diperlukan ketika seseorang menghadapi tekanan atau luka psikologis yang membutuhkan perhatian dan dukungan.

Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi langkah positif dalam membangun kepedulian terhadap kesehatan psikologis peserta didik sekaligus memperkuat sistem dukungan di lingkungan sekolah.

Media PilarNTB — Mengabarkan Fakta, Mengawal Kepentingan Publik.


 


TAMBE, Media pilarNTB.com— Upaya meningkatkan pengetahuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak terus dilakukan melalui kegiatan Kelas Ibu Balita di Desa Tambe, Rabu(23/09/2026)

Kegiatan tersebut menyasar sebanyak 15 orang ibu yang memiliki balita, dengan materi utama mengenai pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) bagi anak usia 6–12 bulan

Kegiatan ini menjadi salah satu sarana edukasi bagi para ibu untuk memahami pentingnya pemberian makanan yang sesuai dengan usia, kebutuhan gizi, tekstur, porsi, serta frekuensi makan anak, khususnya pada masa awal anak mulai mengenal makanan selain ASI.

Dalam penyampaian materi, para ibu diberikan pemahaman bahwa MP-ASI mulai diperkenalkan ketika anak memasuki usia 6 bulan, karena pada usia tersebut kebutuhan energi dan zat gizi anak mulai meningkat sehingga ASI saja tidak lagi mencukupi seluruh kebutuhan gizinya. Meski demikian, pemberian MP-ASI tetap perlu dilakukan dengan tetap melanjutkan pemberian ASI.

MP-ASI yang diberikan juga perlu memperhatikan prinsip gizi seimbang dan keamanan pangan, dengan mengutamakan bahan makanan yang beragam serta sumber protein hewani dan nabati, sayur, buah, dan sumber energi sesuai kebutuhan anak.

Selain jenis makanan, tekstur MP-ASI juga harus disesuaikan dengan perkembangan kemampuan makan anak. Seiring bertambahnya usia, tekstur makanan dapat ditingkatkan secara bertahap agar anak terbiasa mengunyah dan menerima berbagai jenis makanan.

Melalui Kelas Ibu Balita ini, para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam pola pemberian makanan sehari-hari di rumah. Pengetahuan orang tua dinilai penting karena kualitas asupan makanan pada masa pertumbuhan turut mendukung tumbuh kembang anak.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi para ibu untuk berdiskusi dan memperoleh pemahaman yang lebih tepat mengenai pemberian MP-ASI, sehingga diharapkan dapat mencegah kesalahan dalam pemberian makanan dan membantu memenuhi kebutuhan gizi anak secara optimal.

Dengan adanya edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan di tingkat desa, Kelas Ibu Balita diharapkan dapat memperkuat peran keluarga dalam menjaga kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan anak sejak usia dini.


Penulis: Jubair ar-Qamar 

Pimpinan redaksi PilarNTB 

 


BIMA, media PilarNTB.com— Suasana penuh kebanggaan dan haru mewarnai pelaksanaan upacara di SDN Runggu Senin (21/09/2026). Sejumlah petugas upacara yang tampil di hadapan seluruh warga sekolah merupakan siswa kelas 1 dan 2 yang masih berada pada tahap awal belajar keberanian, kedisiplinan, dan rasa percaya diri.

Meski masih tergolong sangat muda, para siswa tersebut mampu menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Mereka berdiri di hadapan guru dan seluruh siswa, melaksanakan setiap tugas dalam rangkaian upacara dengan semangat dan keberanian.

Bagi Kepala SDN Runggu, Bambang, S.Pd, penampilan anak-anak tersebut bukan sekadar bagian dari pelaksanaan upacara rutin. Lebih dari itu, keberanian mereka tampil di depan umum merupakan proses penting dalam membentuk karakter dan kepercayaan diri sejak usia dini.

“Bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana. Namun bagi kami, keberanian anak-anak untuk tampil di depan merupakan sebuah pencapaian yang patut diapresiasi,” demikian semangat yang tergambar dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.



Menurutnya, anak-anak perlu diberikan ruang untuk mencoba, belajar bertanggung jawab, dan berani tampil sejak dini. Dari pengalaman sederhana seperti menjadi petugas upacara, mereka belajar tentang disiplin, kerja sama, tanggung jawab, sekaligus keberanian menghadapi banyak orang.

Kebanggaan pun terlihat dari semangat warga sekolah menyaksikan penampilan para petugas cilik tersebut. Meski masih kecil dan masih dalam proses belajar, mereka telah menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu datang dari usia, tetapi dapat tumbuh ketika anak diberikan kepercayaan dan kesempatan.

Kepala SDN Runggu, Bambang, S.Pd, terus mendorong agar para siswa tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, berkarakter, disiplin, dan memiliki semangat untuk belajar.

Hari ini mereka mungkin baru berdiri di depan sebagai petugas upacara. Namun dari langkah kecil itulah, mereka sedang belajar mempersiapkan diri untuk berdiri lebih jauh dalam mengejar cita-cita dan masa depan. Ungkapnya



 


BIMA, media pilarNTB.com   Upaya membangun kesadaran hidup sehat dan pemenuhan gizi di kalangan remaja terus digencarkan. Puskesmas Bolo bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bima melaksanakan Gerakan Aksi Bergizi, yang dirangkaikan dengan kegiatan minum Tablet Tambah Darah (TTD) secara serentak bagi siswa dan siswi.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di SMP Negeri 1 Bolo dan SMP Negeri 2 Bolo, dengan melibatkan peserta didik serta pihak sekolah sebagai bagian dari gerakan bersama dalam meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan dan gizi sejak usia remaja.

Gerakan Aksi Bergizi menjadi momentum penting untuk memberikan pemahaman kepada para pelajar bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pengobatan ketika sakit, tetapi juga bagaimana menjaga tubuh melalui pola hidup sehat, asupan makanan bergizi seimbang, serta kebiasaan yang mendukung tumbuh kembang remaja.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah minum Tablet Tambah Darah secara serentak dengan pendampingan tenaga kesehatan dan pihak sekolah. Pemberian TTD merupakan salah satu upaya pencegahan anemia pada remaja, terutama remaja putri yang memiliki kebutuhan zat besi lebih tinggi.

Anemia pada remaja perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kondisi fisik dan konsentrasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Karena itu, edukasi mengenai pentingnya asupan gizi dan konsumsi TTD menjadi bagian penting dalam membangun generasi muda yang sehat dan produktif.

Kolaborasi antara Puskesmas Bolo, Dinas Kesehatan Kabupaten Bima, dan pihak sekolah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Edukasi kesehatan diharapkan dapat terus dilakukan secara berkelanjutan sehingga para pelajar mampu menerapkan kebiasaan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui Gerakan Aksi Bergizi tersebut, para siswa juga didorong untuk memiliki kesadaran bahwa menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Sekolah menjadi salah satu lingkungan strategis untuk menanamkan kebiasaan positif sekaligus membentuk perilaku hidup sehat sejak dini.

Kegiatan di SMP Negeri 1 Bolo dan SMP Negeri 2 Bolo ini sekaligus menunjukkan pentingnya sinergi antara sektor kesehatan dan pendidikan dalam mendukung kualitas generasi muda.

Dengan gerakan yang dilakukan secara bersama dan berkelanjutan, diharapkan para pelajar di Kecamatan Bolo dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, aktif, produktif, dan memiliki kesadaran kuat terhadap pentingnya gizi serta kesehatan diri.

 


BIMA, media  pilarNTB.COM — Upacara bendera yang digelar di SMP Negeri 5 Palibelo, Kabupaten Bima, Senin (14/9/2026), dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah, Nurwahidah, S.Pd. Dalam kesempatan tersebut, kepala sekolah menegaskan pentingnya kedisiplinan guru dan siswa sebagai bagian dari upaya menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif dan tertib.

Salah satu penekanan yang disampaikan adalah terkait kedisiplinan jam pulang guru. Kepala sekolah meminta agar guru tidak meninggalkan sekolah sebelum waktu yang telah ditentukan, terutama ketika masih terdapat kegiatan dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan bersama siswa.

Menurut Nurwahidah, kedisiplinan guru sangat penting karena guru merupakan figur yang menjadi contoh bagi peserta didik.

Selain persoalan jam kerja, pihak sekolah juga mendorong guru untuk melakukan pengawasan terhadap perlengkapan yang dibawa siswa ke sekolah. Barang-barang yang tidak berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran, seperti bedak, gincu atau perlengkapan kosmetik lainnya, diharapkan tidak dibawa ke lingkungan sekolah apabila tidak memiliki kepentingan dalam kegiatan pendidikan.

Langkah tersebut dilakukan bukan semata-mata untuk membatasi siswa, tetapi sebagai bagian dari pembinaan disiplin agar peserta didik dapat lebih fokus mengikuti proses belajar mengajar.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan membaca dan memahami isi bacaan, SMPN 5 Palibelo juga mulai menerapkan program literasi yang dijadwalkan setiap Selasa dan Rabu.

Program tersebut berlangsung selama 40 menit. Dari waktu tersebut, sekitar 10 menit digunakan siswa untuk membaca, sedangkan 30 menit berikutnya digunakan untuk menyimpulkan dan menyampaikan kembali pemahaman terhadap bahan bacaan yang telah dibaca.

Kepala sekolah menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan membiasakan siswa membaca, tetapi juga untuk melihat sejauh mana perkembangan kemampuan mereka dalam memahami serta mengolah informasi.

Dengan demikian, siswa tidak sekadar membaca, tetapi juga dituntut mampu memahami isi bacaan dan mengungkapkan kembali apa yang telah mereka dapatkan.

Selain program literasi, sekolah juga menekankan pelaksanaan shalat Zuhur berjamaah yang dilakukan secara rutin setiap hari.

Nurwahidah menegaskan, kedisiplinan guru berkaitan erat dengan pelaksanaan kegiatan tersebut. Guru diharapkan tetap berada di sekolah dan ikut mengoordinasikan siswa ketika memasuki waktu shalat.

Sekitar pukul 12.00 WITA, siswa akan diarahkan menuju mushola untuk mempersiapkan pelaksanaan shalat Zuhur berjamaah.

"Itulah tujuan saya menertibkan guru. Kalau guru-gurunya pulang duluan, lalu siapa yang akan mengoordinasikan anak-anak?" tegas Nurwahidah.

Menurutnya, keberadaan guru sangat dibutuhkan untuk memastikan kegiatan siswa tetap berjalan tertib, termasuk dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah.


Untuk memperkuat pengawasan selama proses pembelajaran, pihak sekolah juga menerapkan kebijakan penguncian gerbang sekolah pada jam belajar.

Kebijakan tersebut bertujuan mencegah siswa keluar-masuk lingkungan sekolah tanpa alasan yang jelas selama kegiatan belajar berlangsung. Dengan pengawasan yang lebih ketat, sekolah berharap suasana pembelajaran dapat berlangsung lebih aman, tertib dan kondusif.

Kepala sekolah berharap seluruh aturan tersebut dapat dipahami dan dilaksanakan bersama, baik oleh guru maupun siswa.

Menurutnya, kedisiplinan tidak boleh hanya dibebankan kepada peserta didik. Guru sebagai tenaga pendidik juga harus memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

"Guru itu adalah contoh bagi anak-anak. Saya tidak mau guru-guru kesayangan saya di sini justru menjadi contoh yang kurang baik bagi anak-anak didik saya," ungkapnya.

Nurwahidah berharap penerapan berbagai aturan dan program tersebut ke depan dapat membangun budaya disiplin di SMPN 5 Palibelo. Dengan guru yang disiplin dan siswa yang tertib, proses pembelajaran diharapkan menjadi lebih efektif sehingga tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai dengan lebih baik.


Penulis Jubair ar-Qamar 

PILARNTB.COM — Disiplin, Literasi, dan Keteladanan untuk Pendidikan yang Lebih Baik.

 


BIMA, Media pilarNTB.com— Unit Inafis Satreskrim Polres Bima Kabupaten Polda NTB melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) terkait penemuan janin bayi laki-laki di sebuah got di Desa Runggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 08.30 WITA.

Janin tersebut ditemukan warga pada pagi hari sebelum kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis sementara, janin berjenis kelamin laki-laki tersebut diperkirakan berusia sekitar 4,6 bulan dalam kandungan.

Dalam proses olah TKP, petugas Inafis melakukan sejumlah tindakan kepolisian, di antaranya pengamatan terhadap kondisi lokasi, pemotretan TKP secara umum dan khusus, serta membuat sketsa lokasi kejadian untuk mendukung proses penyelidikan.

Penemuan janin itu bermula sekitar pukul 05.30 WITA. Seorang warga berinisial IS (laki-laki) sedang membersihkan got di sekitar rumahnya. Saat itu, ia menemukan benda yang awalnya diduga sebagai janin atau bangkai hewan.

IS kemudian mengangkat benda tersebut menggunakan sekop kecil dengan maksud membuangnya ke sungai. Namun, dalam perjalanan, ia menyadari bahwa benda tersebut merupakan janin manusia. Ia kemudian mengurungkan niatnya dan memberitahukan penemuan tersebut kepada warga lainnya.

Seorang warga berinisial M kemudian datang ke lokasi. Awalnya, M berniat menguburkan janin tersebut. Namun setelah melihat kondisinya, M mengambil kain kafan untuk membungkus janin tersebut dan selanjutnya menghubungi anggota Polsek Belo agar dilakukan pengecekan di lokasi.

Tidak lama berselang, personel Polsek Belo tiba di TKP dan melakukan serangkaian langkah penyelidikan awal. Polisi kemudian berkoordinasi dengan Unit Inafis Satreskrim Polres Bima Kabupaten untuk melakukan olah TKP dan pemeriksaan lebih lanjut.

Dari hasil penyelidikan awal, polisi memperoleh informasi mengenai seorang perempuan warga setempat yang diduga baru melahirkan. Menindaklanjuti informasi tersebut, Kapolsek Belo Iptu Johansyah mendatangi kediaman perempuan berinisial DEP (19), warga Desa Runggu.

Dalam pemeriksaan awal, DEP disebut mengakui perbuatannya. Polisi kemudian mengamankan yang bersangkutan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Mapolsek sebelum proses penanganannya diserahkan kepada Unit PPA Satreskrim Polres Bima Kabupaten.

Kapolres Bima AKBP Muhammad Anton Bhayangkara Gaisar, S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Belo Iptu Johansyah, membenarkan adanya penanganan kasus penemuan janin tersebut.

Menurutnya, motif di balik tindakan yang dilakukan perempuan tersebut masih dalam proses pendalaman oleh penyidik.

“Hingga saat ini kami masih melakukan pemeriksaan secara intensif,” ujar Iptu Johansyah.

Polisi masih melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengungkap secara utuh kronologi, motif, serta pihak-pihak yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Proses hukum selanjutnya akan ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan, pemeriksaan saksi, keterangan pihak yang diamankan, serta alat bukti yang diperoleh penyidik.

Seluruh rangkaian kegiatan kepolisian di lokasi berlangsung aman dan lancar. Situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polsek Belo juga dilaporkan tetap kondusif.

 


BIMA, Media PilarNTB.com — Penemuan jasad bayi laki-laki di dalam sebuah got di wilayah Desa Runggu, Kabupaten Bima, mendapat perhatian serius dari Ahmad, SH selaku kuasa hukum. Ia meminta aparat kepolisian segera melakukan penyelidikan secara serius dan menyeluruh untuk mengungkap fakta di balik peristiwa tersebut.

Ahmad menilai, kasus penemuan bayi tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Terlebih, kondisi dan lokasi ditemukannya jasad bayi menimbulkan sejumlah pertanyaan di tengah masyarakat mengenai bagaimana peristiwa tersebut terjadi dan siapa yang bertanggung jawab.

Karena itu, Ahmad meminta Polres Bima bergerak cepat untuk mengungkap kasus tersebut berdasarkan fakta dan alat bukti yang ditemukan di lapangan.

“Ini bukan persoalan kecil. Ada nyawa manusia yang menjadi korban. Kami meminta pihak kepolisian segera melakukan penyelidikan secara serius agar masyarakat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Ahmad, SH.

Menurut Ahmad, langkah kepolisian perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan lokasi kejadian, pengumpulan barang bukti, pemeriksaan saksi-saksi, hingga pemeriksaan medis atau forensik terhadap jasad bayi apabila diperlukan.

Ia juga meminta polisi menelusuri kemungkinan adanya pihak yang mengetahui atau terlibat dalam peristiwa tersebut. Namun, seluruh dugaan tersebut harus dibuktikan melalui proses penyelidikan dan penyidikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Jangan sampai kasus ini hanya berhenti pada laporan penemuan bayi. Harus ditelusuri sampai terang. Siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana bayi tersebut bisa berada di lokasi itu, semuanya harus berdasarkan fakta dan bukti,” tegasnya.

Ahmad berharap Polres Bima dapat memberikan perhatian serius terhadap kasus tersebut dan segera menyampaikan perkembangan penanganannya kepada masyarakat. Menurutnya, keterbukaan informasi mengenai perkembangan penyelidikan penting agar tidak muncul berbagai spekulasi yang dapat meresahkan masyarakat.

Di sisi lain, Ahmad mengingatkan seluruh pihak agar tidak terburu-buru menyimpulkan siapa yang bersalah sebelum adanya hasil penyelidikan dan bukti yang sah dari aparat penegak hukum.

“Kita serahkan prosesnya kepada kepolisian. Yang kami minta adalah kasus ini segera diungkap secara profesional, transparan, dan berdasarkan bukti. Masyarakat berhak mengetahui kebenaran dari peristiwa ini,” pungkas Ahmad, SH.


Media PilarNTB.com — Mengabarkan Fakta, Mengawal Kebenaran.

 


BIMA Media pilarNTB.com.,—Warga Desa Runggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, dikejutkan dengan penemuan jasad bayi laki-laki di sebuah got kecil di wilayah RT 08, Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 06.00 WITA.

Informasi awal yang dihimpun dari masyarakat setempat menyebutkan, jasad bayi tersebut pertama kali ditemukan oleh seorang warga berinisial (i) saat sedang membersihkan halaman dan saluran got di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Awalnya, berinisial (i) mengira benda yang berada di dalam got tersebut merupakan bangkai hewan yang hendak dibuang bersama sampah. Namun, setelah diperhatikan lebih dekat, ia mulai curiga bahwa benda tersebut bukan bangkai ayam maupun bebek, melainkan jasad seorang bayi.

Kecurigaan tersebut kemudian disampaikan kepada warga lainnya, termasuk berinisial (m). Setelah melihat secara langsung, berinisial (m) juga menduga bahwa benda tersebut merupakan jasad manusia.

Keduanya kemudian memanggil warga sekitar untuk memastikan temuan tersebut. Warga yang datang kemudian melaporkan kejadian itu kepada pihak terkait.

Informasi mengenai penemuan jasad bayi laki-laki tersebut juga disampaikan oleh Babinsa Desa Runggu,  yang kemudian turut melakukan koordinasi terkait penanganan temuan tersebut.

Berdasarkan keterangan  teman2 puskesmas belo bayi tersebut diperkirakan masih berusia 4 bulan. Namun, terkait penyebab kematiannya masih menunggu pemeriksaan dan keterangan resmi dari pihak berwenang.

Penemuan tersebut sontak mengundang perhatian warga sekitar. Masyarakat berharap aparat segera melakukan penyelidikan secara menyeluruh untuk mengungkap siapa yang membuang jasad bayi tersebut dan bagaimana kronologi sebenarnya hingga bayi ditemukan di dalam got.

Hingga berita ini diturunkan, identitas bayi maupun pihak yang diduga bertanggung jawab belum diketahui secara pasti. Pihak berwenang diharapkan segera melakukan pemeriksaan dan penyelidikan guna mengungkap fakta di balik penemuan jasad bayi laki-laki tersebut.

Media PilarNTB.com akan terus mengikuti perkembangan kasus ini berdasarkan informasi dan keterangan resmi dari pihak berwenang.



Media pilarNTB 


 


BIMA ,media PilarNTB.com.    Upaya penyelesaian secara damai dan kekeluargaan dalam persoalan yang melibatkan JF disebut telah beberapa kali dilakukan. Namun, sejumlah agenda pertemuan yang diharapkan menjadi ruang dialog untuk mempertemukan para pihak hingga kini belum terlaksana.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, upaya mediasi bahkan disebut pernah dilakukan dengan cara menunggu pihak JF di wilayah Rabakodo sebanyak dua kali setelah sebelumnya terdapat kesepakatan atau janji untuk bertemu. Namun, pertemuan tersebut tidak berlangsung sebagaimana yang diharapkan.

Salah satu agenda mediasi yang juga menjadi bagian dari rangkaian upaya penyelesaian disebut dijadwalkan pada Minggu, 21 Desember 2025, selepas Ashar. Pertemuan tersebut diinisiasi oleh Hj. Mahdalena, Habib Hamdan, dan Fernando, dengan tujuan membuka ruang komunikasi dan mencari kemungkinan penyelesaian secara persuasif.

Mediasi tersebut bukan dimaksudkan untuk menentukan siapa yang benar atau salah, melainkan sebagai ruang untuk mempertemukan pihak-pihak yang berkepentingan, mengklarifikasi persoalan, sekaligus mencari jalan keluar secara kekeluargaan.

Namun, agenda yang telah direncanakan tersebut kembali tidak terlaksana. Berdasarkan keterangan yang diperoleh, kondisi hujan pada saat itu disebut menjadi salah satu alasan JF tidak menghadiri pertemuan.

Kondisi tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam melihat persoalan secara utuh. Sebab, ketika sebuah upaya mediasi telah beberapa kali dibuka, kronologi mengenai siapa yang menginisiasi, kapan pertemuan dijadwalkan, siapa yang hadir, serta siapa yang tidak hadir menjadi fakta yang penting untuk diketahui sebelum publik menarik kesimpulan.

Jangan sampai fakta dipotong hanya pada bagian tertentu, sementara rangkaian peristiwa lainnya dihilangkan.

Dalam setiap persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, penyampaian informasi secara utuh menjadi sangat penting. Terlebih apabila persoalan tersebut berpotensi menimbulkan persepsi, tudingan, atau penilaian publik terhadap pihak-pihak yang terlibat.

Upaya mediasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ruang penyelesaian secara damai sebenarnya pernah dibuka. Artinya, sebelum persoalan berkembang menjadi pertarungan opini di ruang publik, masih terdapat ikhtiar untuk mempertemukan para pihak melalui komunikasi dan dialog.

Karena itu, setiap informasi yang disampaikan kepada masyarakat idealnya berpijak pada fakta, kronologi, dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Perbedaan versi atau pandangan tentu dapat terjadi, tetapi perbedaan tersebut semestinya diuji melalui klarifikasi dan bukti, bukan melalui narasi sepihak.

Publik juga memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang benar, utuh, dan berimbang. Dalam konteks ini, penting bagi semua pihak untuk tidak terburu-buru membangun kesimpulan sebelum seluruh rangkaian peristiwa diketahui secara jelas.

Pertanyaan sederhananya: kapan upaya mediasi dilakukan, siapa yang menginisiasi, siapa yang hadir, siapa yang tidak hadir, dan apa alasan ketidakhadiran tersebut?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting untuk melihat persoalan secara objektif.

Pada akhirnya, kebenaran tidak membutuhkan narasi yang dibengkokkan. Kebenaran membutuhkan fakta, kronologi, klarifikasi, dan bukti.

Jika pintu dialog masih terbuka, maka penyelesaian melalui komunikasi dan musyawarah patut tetap dikedepankan. Sebab, menyelesaikan persoalan dengan fakta dan itikad baik jauh lebih bermartabat daripada memenangkan perdebatan melalui informasi yang tidak utuh.

Jangan bengkokkan fakta. Biarkan kronologi berbicara, biarkan bukti menjelaskan, dan biarkan publik menilai berdasarkan informasi yang lengkap.


 

BIMA, PilarNTB.com — Kebakaran hebat menghanguskan tiga rumah permanen di Dusun Kananga, Desa Tente, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 15.40 WITA. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp800 juta.

Api pertama kali terlihat dari rumah milik Safarudin (42). Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung berupaya melakukan pemadaman menggunakan peralatan seadanya sembari menghubungi petugas pemadam kebakaran.

Sekitar pukul 15.50 WITA, satu unit armada Damkar Kecamatan Belo tiba di lokasi. Namun, kobaran api telah membesar dan merambat ke dua rumah yang berada di sekitar lokasi, masing-masing milik Syamsudin (60) dan H. Hamzah (62).

Berdasarkan keterangan awal sejumlah warga di lokasi, api diduga berasal dari dalam rumah Safarudin. Warga menduga kebakaran tersebut bukan semata-mata akibat korsleting atau faktor teknis, melainkan terdapat dugaan tindakan pembakaran secara sengaja.

Informasi tersebut masih bersifat dugaan awal. Penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil penyelidikan serta olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh pihak kepolisian.

Situasi di lokasi sempat memanas setelah sejumlah warga yang emosi berupaya melakukan tindakan terhadap Safarudin. Petugas kemudian mengamankan yang bersangkutan guna mencegah terjadinya tindakan main hakim sendiri.

Safarudin selanjutnya dibawa ke Puskesmas Woha untuk mendapatkan penanganan medis. Mengenai kondisi kejiwaan maupun dugaan gangguan jiwa yang dikaitkan dengan dirinya, hal tersebut juga perlu dipastikan berdasarkan pemeriksaan dan keterangan dari pihak yang berwenang.

Upaya pemadaman berlangsung cukup intensif. Sebanyak lima unit armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk mengendalikan kobaran api agar tidak merambat ke bangunan lain di sekitar permukiman.

Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.35 WITA.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, tiga rumah permanen mengalami kerusakan berat hingga ludes terbakar dan kerugian material sementara ditaksir mencapai Rp800 juta.


Pihak kepolisian diharapkan segera melakukan olah TKP dan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi untuk mengungkap secara terang penyebab kebakaran tersebut.

Jika ditemukan adanya unsur kesengajaan, proses hukum tentunya menjadi kewenangan aparat berdasarkan hasil penyelidikan dan alat bukti yang diperoleh.

Di tengah situasi tersebut, masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak melakukan aksi main hakim sendiri. Setiap dugaan pelanggaran hukum harus diserahkan kepada aparat penegak hukum agar ditangani sesuai ketentuan yang berlaku.

PilarNTB.com akan terus mengikuti perkembangan kasus ini dan menyajikan informasi berdasarkan fakta serta keterangan resmi dari pihak berwenang.


 


SONDOSIA, PilarNTB.com — Pemerintah Desa Sondosia menyalurkan bantuan pangan berupa beras kepada masyarakat penerima manfaat untuk periode alokasi Juli–September 2026.Kamis tgl (03/08/2026) Sebanyak 424 Kepala Keluarga (KK) tercatat sebagai penerima manfaat dalam program bantuan pangan tersebut.

Pada penyaluran kali ini, setiap keluarga penerima manfaat memperoleh 30 kilogram beras, yang merupakan alokasi bantuan untuk tiga bulan. Bantuan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga di tengah berbagai kebutuhan ekonomi keluarga.

Proses pengambilan bantuan berlangsung dengan tertib, aman dan kondusif. Masyarakat penerima manfaat mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan sehingga proses penyaluran dapat berjalan lancar tanpa mengganggu aktivitas warga lainnya.

Koordinator Desa (Kordes) Munawir, S.Pd., menyampaikan bahwa penyaluran bantuan pangan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang membutuhkan. Ia mengapresiasi seluruh penerima manfaat yang telah mengikuti proses pengambilan bantuan dengan tertib dan penuh tanggung jawab.

“Kami bersyukur penyaluran bantuan pangan ini dapat berjalan dengan baik. Masyarakat sangat tertib dalam mengikuti proses pengambilan. Kami berharap bantuan beras ini benar-benar dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga,” ujar Munawir.

Menurutnya, bantuan tersebut memiliki manfaat yang cukup besar bagi masyarakat penerima. Selain membantu mengurangi beban pengeluaran rumah tangga, bantuan beras juga menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap ketahanan pangan keluarga.

Munawir juga mengajak masyarakat penerima manfaat untuk tetap menjaga ketertiban serta mengikuti seluruh ketentuan dalam setiap proses penyaluran bantuan pemerintah.

“Yang paling penting adalah bantuan ini tepat sasaran dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah menjaga suasana tetap aman, tertib dan kondusif,” tambahnya.

Dengan jumlah 424 KK penerima manfaat, penyaluran bantuan pangan di Desa Sondosia diharapkan mampu memberikan kontribusi positif terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

Program bantuan pangan tidak hanya dipandang sebagai bantuan beras semata, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membantu menjaga ketahanan pangan keluarga, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketertiban masyarakat selama proses pengambilan juga menjadi gambaran positif bahwa sinergi antara pemerintah desa, petugas pelaksana dan masyarakat dapat menciptakan proses penyaluran bantuan yang aman, transparan dan berjalan sesuai mekanisme.

Pemerintah Desa Sondosia bersama masyarakat berkomitmen menjaga agar setiap program bantuan yang hadir dapat memberikan manfaat nyata dan dirasakan langsung oleh warga.

Penulis Jubair ar-Qamar 

Pimpinan redaksi PilarNTB 

 

MONTA, PilarNTB.Com — Semangat dan antusiasme terlihat dari para siswa SMPN 4 Monta saat mengikuti latihan drumband di halaman sekolah, Kamis (3/9/2026). Dengan penuh konsentrasi, para siswa memainkan berbagai instrumen musik secara bersama-sama, mengikuti arahan guru pembina untuk menghasilkan irama yang kompak dan harmonis.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan ekstrakurikuler yang secara rutin dilaksanakan pihak sekolah sebagai upaya memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan potensi, minat, dan bakat di luar kegiatan akademik.

Latihan tidak hanya berorientasi pada kemampuan memainkan alat musik. Lebih dari itu, drumband menjadi salah satu sarana pendidikan karakter yang mengajarkan siswa tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kekompakan, konsentrasi, serta kemampuan bekerja sama dalam sebuah tim.

Di bawah bimbingan para guru pembina dan pengawasan langsung Kepala SMPN 4 Monta, Jubaidah, S.Pd., para siswa terus diberikan pendampingan agar mampu meningkatkan keterampilan sekaligus membangun kepercayaan diri.

Dalam setiap sesi latihan, siswa dituntut mampu mengikuti tempo, menjaga ketepatan irama, memperhatikan aba-aba, serta menyesuaikan permainan dengan anggota lainnya. Hal tersebut menjadi proses penting dalam membentuk kekompakan kelompok.

Kepala SMPN 4 Monta, Jubaidah, S.Pd., menyampaikan apresiasi terhadap semangat dan ketekunan para siswa yang mengikuti latihan. Ia juga memberikan penghargaan kepada para guru pembina yang secara konsisten meluangkan waktu untuk mendampingi dan mengembangkan kemampuan peserta didik.

Menurut Jubaidah, kegiatan ekstrakurikuler merupakan bagian penting dalam proses pendidikan karena tidak semua potensi siswa dapat dikembangkan hanya melalui pembelajaran di dalam kelas.

“Kami sangat mendukung penuh kegiatan ekstrakurikuler seperti drumband ini. Selain melatih keterampilan bermusik, siswa juga belajar tentang kerja sama, kekompakan, tanggung jawab dan kedisiplinan sejak dini,” ujar Jubaidah saat meninjau langsung kegiatan latihan.

Ia menambahkan, latihan yang dilakukan secara rutin diharapkan dapat membentuk mental siswa agar lebih percaya diri ketika harus tampil di hadapan masyarakat maupun dalam berbagai kegiatan resmi.

Bagi sekolah, keberadaan kelompok drumband juga diharapkan mampu menjadi salah satu wadah untuk menggali potensi siswa sekaligus membawa nama baik SMPN 4 Monta dalam berbagai kegiatan.

Karena itu, pihak sekolah berkomitmen untuk terus memberikan dukungan terhadap proses pembinaan, baik melalui latihan secara berkala maupun peningkatan kemampuan siswa secara bertahap.

Para siswa pun terlihat menikmati setiap proses latihan. Meski harus mengulang sejumlah pola permainan hingga mendapatkan ritme yang tepat, mereka tetap menunjukkan semangat dan kekompakan.

Dengan latihan yang konsisten serta dukungan penuh dari pihak sekolah dan para guru pembina, kelompok drumband SMPN 4 Monta diharapkan mampu tampil semakin matang dan profesional.

Ke depan, kelompok tersebut ditargetkan tidak hanya tampil dalam kegiatan internal sekolah, tetapi juga dapat ambil bagian dalam berbagai agenda upacara, kegiatan sosial dan kemasyarakatan, peringatan hari besar nasional, hingga ajang perlombaan di tingkat kecamatan maupun Kabupaten Bima.

Kehadiran kegiatan drumband di SMPN 4 Monta menjadi gambaran bahwa pendidikan tidak hanya berbicara mengenai pencapaian akademik. Pengembangan seni, kreativitas, kedisiplinan dan kemampuan bekerja sama juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda yang memiliki karakter, percaya diri dan mampu berprestasi.

Melalui pembinaan yang berkelanjutan, SMPN 4 Monta optimistis potensi para siswa dapat terus berkembang dan pada waktunya mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki keterampilan, karakter kuat dan prestasi di bidang non-akademik.

(Jubair ar-Qamar)

 


 BIMA Media pilarNTB.Com— Jalan Lintas Talabiu–Roi, Kabupaten Bima, berubah menjadi ruang publik yang ramai dan penuh semangat pada Minggu (30/8/2026). Ribuan? masyarakat dari berbagai kalangan mengikuti kegiatan Jalan Santai dan Car Free Day (CFD) yang berlangsung meriah sejak pagi.

Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang olahraga dan menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi, interaksi sosial, sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan aktivitas ekonomi melalui Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Sejumlah unsur turut ambil bagian, di antaranya Camat Woha Irfan, Camat Belo, Anggota DPR RI Hj. Mahdalena, Ketua DPRD Kabupaten Bima beserta jajaran Anggota DPRD    danramil 1608/04 woha  Korwil Kecamatan Woha, seluruh kepala sekolah se-Kecamatan Woha, serta masyarakat umum.

Sejak pagi, suasana di sepanjang jalur Talabiu–Roi tampak hidup. Masyarakat berjalan santai dengan penuh antusias, menikmati ruang publik yang terbebas sementara dari kepadatan kendaraan bermotor.

Camat Woha Irfan S.sos menegaskan bahwa kegiatan jalan santai dan CFD tidak semestinya berhenti sebagai kegiatan seremonial.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat dipertahankan dan dilaksanakan secara rutin sehingga masyarakat memiliki ruang publik yang dapat dimanfaatkan untuk berolahraga, bersosialisasi, sekaligus melakukan berbagai aktivitas positif.

“Kegiatan ini akan kami upayakan untuk terus berjalan setiap Minggu. Mudah-mudahan bisa menjadi kegiatan rutin yang memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama dalam menjaga kesehatan dan membangun kebersamaan,” ujar Irfan 

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan, ketertiban dan kenyamanan selama CFD berlangsung.

Menurutnya, keberlanjutan kegiatan membutuhkan dukungan semua pihak agar ruang publik tersebut benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Antusiasme masyarakat mendapat apresiasi dari Anggota DPR RI Hj. Mahdalena, S.S., MM. Ia menilai CFD memiliki potensi besar untuk dikembangkan tidak hanya sebagai kegiatan olahraga, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menggerakkan perekonomian masyarakat.

Mahdalena mendorong agar CFD Talabiu–Roi dapat dilaksanakan secara konsisten setiap Minggu dengan melibatkan lebih banyak pelaku UMKM, komunitas olahraga, kelompok seni, hingga pelaku ekonomi kreatif.

“Saya sangat mengapresiasi antusiasme masyarakat. Kegiatan seperti ini jangan hanya dilakukan sekali, tetapi mari kita pertahankan dan kita ramaikan setiap Minggu. Ini adalah kegiatan sehat, tetapi di sisi lain juga bisa menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha,” kata Mahdalena.

Menurutnya, Kabupaten Bima memiliki kekayaan produk lokal dan kuliner khas yang memiliki potensi untuk dipromosikan melalui ruang-ruang publik seperti CFD.

“Kabupaten Bima memiliki banyak UMKM dan makanan khas yang luar biasa. Semangat masyarakat untuk berjualan juga sangat bagus. Kalau kegiatan seperti ini terus berjalan, mudah-mudahan UMKM kita semakin hidup, transaksi masyarakat semakin lancar, dan produk lokal Bima semakin dikenal,” ujarnya.

Mahdalena menekankan bahwa keberhasilan CFD tidak hanya dapat dilihat dari banyaknya masyarakat yang hadir, tetapi juga dari dampak yang ditimbulkan terhadap kesehatan, kebersamaan, kreativitas dan perekonomian masyarakat.

Keterlibatan Korwil Kecamatan Woha bersama seluruh kepala sekolah se-Kecamatan Woha menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut.

Partisipasi dunia pendidikan menunjukkan bahwa gerakan hidup sehat membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Kepala sekolah hadir bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memberikan contoh kepada lingkungan pendidikan mengenai pentingnya olahraga dan pola hidup sehat.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat pesan kepada generasi muda bahwa ruang publik dapat dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif, sehat dan produktif

Kemeriahan kegiatan semakin terasa dengan adanya pembagian hadiah bagi peserta. Hadiah utama diserahkan langsung oleh Anggota DPR RI Hj. Mahdalena, S.S., MM, bersama Camat Woha Irfan, S.Sos., dan Anggota DPRD Kabupaten Bima Hilda Komala Dewi.

Pembagian hadiah tersebut menambah antusiasme masyarakat sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap partisipasi warga dalam menyukseskan kegiatan jalan santai dan CFD.

Pelaksanaan CFD Talabiu–Roi memberikan gambaran bahwa jalur tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai ruang publik yang aktif, sehat dan produktif.

Jika dikelola secara konsisten dan terencana, CFD tidak hanya dapat menjadi agenda olahraga mingguan, tetapi juga dapat berkembang menjadi ruang promosi UMKM, kuliner khas Bima, komunitas olahraga, seni, pendidikan, kreativitas anak muda hingga berbagai kegiatan sosial masyarakat.

Karena itu, keberlanjutan kegiatan membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, DPRD, DPR RI, dunia pendidikan, pelaku UMKM, komunitas dan masyarakat perlu mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Car Free Day pada akhirnya bukan sekadar menutup jalan dari kendaraan. Lebih dari itu, CFD menghadirkan kembali ruang publik sebagai tempat masyarakat berolahraga, bersilaturahmi, berkarya dan menggerakkan ekonomi lokal.

Antusiasme masyarakat pada pelaksanaan perdana ini menjadi modal sosial yang penting. Tantangannya kini adalah bagaimana semangat tersebut dapat dijaga, dikelola dan ditingkatkan menjadi sebuah agenda rutin yang benar-benar memberikan manfaat nyata.

Dengan semangat kolaborasi dan partisipasi masyarakat, CFD Talabiu–Roi diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan Mingguan yang meriah, tetapi tumbuh menjadi gerakan bersama untuk membangun masyarakat yang sehat, produktif dan mandiri secara ekonomi.


Penulis Jubair ar-Qamar 


Media PilarNTB — Sehat Bersama, Ekonomi Bergerak, Bima Makin Berdaya.

 


BIMA, Media pilarNTB.com— RSUD Sondosia terus memperkuat kapasitas pelayanan kesehatan rujukan bagi masyarakat Kabupaten Bima. Bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-15, rumah sakit tersebut resmi mengoperasikan layanan Neonatal Intensive Care Unit (NICU) dan Pediatric Intensive Care Unit (PICU) sebagai fasilitas perawatan intensif khusus bagi bayi baru lahir dan pasien anak dalam kondisi kritis.

Peresmian layanan tersebut dilakukan oleh Bupati Bima Ady Mahyudi, Sabtu (29/8/2026), ditandai dengan penandatanganan prasasti, pengguntingan pita, pemotongan tumpeng, serta peninjauan langsung fasilitas ruang perawatan pasien.

Kehadiran gedung baru PICU-NICU ini menjadi salah satu langkah strategis Pemerintah Kabupaten Bima dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan sekaligus memperkuat posisi RSUD Sondosia sebagai rumah sakit rujukan, khususnya bagi masyarakat wilayah Bima Barat dan Selatan.

“Kehadiran gedung khusus PICU-NICU dan fasilitas medis modern di RSUD Sondosia untuk menunjang fasilitas perawatan intensif yang dilengkapi peralatan medis sesuai standar, seperti sistem pemantauan kondisi pasien (patient monitor), inkubator, dan alat bantu pernapasan (ventilator), menegaskan kesiapan RSUD Sondosia sebagai Pusat Rujukan Perawatan Intensif Anak,” ujar Bupati Bima

Direktur RSUD Sondosia, dr. Firman, MPH, menjelaskan bahwa layanan NICU dan PICU dirancang khusus untuk memberikan perawatan intensif bagi bayi baru lahir maupun anak-anak yang berada dalam kondisi kritis atau berisiko tinggi.

Gedung layanan tersebut merupakan bangunan dua lantai yang berdiri di atas lahan sekitar 720 meter persegi, dengan luas bangunan mencapai 498,45 meter persegi. Pembangunannya didukung melalui Dana Alokasi Khusus (DAK).

Di dalam gedung tersedia 44 tempat tidur berstandar serta ruang khusus yang mampu menampung 33 boks bayi.

“Gedung dua lantai ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 720 meter persegi dengan luas bangunan 498,45 meter persegi. Pendanaannya bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Di dalamnya tersedia 44 tempat tidur berstandar serta ruangan khusus yang menampung 33 boks bayi,” jelas dr. Firman.

Fasilitas tersebut diharapkan mampu memberikan penanganan yang lebih cepat, terintegrasi dan intensif terhadap pasien bayi maupun anak yang membutuhkan pengawasan medis secara ketat.

Diperkuat 11 Dokter Spesialis

Dalam arahannya pada momentum HUT ke-15 RSUD Sondosia, Bupati Bima menegaskan bahwa penguatan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan peningkatan sumber daya manusia dan kualitas pelayanan.

Saat ini, RSUD Sondosia didukung 11 dokter spesialis, termasuk dokter spesialis anak, dua dokter spesialis kandungan dan dua dokter spesialis bedah.

Menurut Bupati, keberadaan tenaga dokter spesialis tersebut menjadi modal penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan di RSUD Sondosia.

“Dengan dukungan 11 dokter spesialis, termasuk dokter spesialis anak, dua dokter spesialis kandungan, serta dua dokter spesialis bedah, ini merupakan modal yang sangat baik untuk membangun kepercayaan masyarakat,” terang Ady Mahyudi.



Ia pun mengajak masyarakat, khususnya dari wilayah Bima Barat dan Selatan, untuk memanfaatkan secara optimal berbagai layanan kesehatan yang telah tersedia di RSUD Sondosia.

Pemerintah Kabupaten Bima, kata Bupati, akan terus memberikan dukungan terhadap pengembangan RSUD Sondosia. Langkah tersebut dilakukan melalui penambahan tenaga kesehatan, pengembangan jenis pelayanan, peningkatan fasilitas serta membuka peluang dukungan dari berbagai pihak.

Targetnya jelas: RSUD Sondosia secara bertahap diharapkan mampu menjadi rujukan utama masyarakat Bima Barat dan Selatan, bahkan melayani masyarakat dari wilayah sekitar.

“Kita ingin RSUD Sondosia secara bertahap menjadi rujukan utama masyarakat Bima Barat dan Selatan, bahkan masyarakat dari wilayah sekitar,” ujarnya.

Bupati juga menjadikan usia ke-15 RSUD Sondosia sebagai momentum untuk memasuki fase baru dalam pengembangan pelayanan kesehatan.

“Terus tumbuh dalam kapasitas. Terus berkembang dalam kualitas, dan terus memberi manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.


Peringatan HUT ke-15 RSUD Sondosia tahun ini mengusung tema “Terus Tumbuh, Berkembang Memberi Manfaat Untuk Perubahan yang Lebih Baik.”

Tema tersebut sejalan dengan arah pengembangan rumah sakit yang tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, kelengkapan fasilitas, perluasan layanan dan peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat.

Sejumlah pejabat turut menghadiri peresmian gedung PICU-NICU, di antaranya anggota DPRD Kabupaten Bima Hj. Nurhayati, S.E., M.Si., Nurdin Amin, S.H., Ardiwin, S.H., dan Sri Langit Nawaksara, S.H.

Turut hadir Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Bima Fatahullah, S.Pd., para kepala perangkat daerah, camat dan unsur Muspika Kecamatan Bolo dan Soromandi, para kepala desa serta kepala puskesmas.

Dengan hadirnya PICU dan NICU, RSUD Sondosia kini memiliki tambahan fasilitas penting untuk menangani pasien anak dan bayi dengan kebutuhan perawatan intensif. Penguatan layanan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah mendekatkan pelayanan kesehatan berkualitas kepada masyarakat.

Memasuki usia 15 tahun, RSUD Sondosia tidak sekadar bertambah usia, tetapi dituntut semakin kuat dalam kapasitas, semakin baik dalam kualitas, dan semakin besar manfaatnya bagi masyarakat.


Penulis:Jubair ar-Qamar 

Pimpinan redaksi PilarNTB 


 

SONDOSIA — Kehadiran dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) baru di RSUD Sondosia menjadi kabar positif bagi masyarakat, khususnya perempuan yang membutuhkan pelayanan kesehatan ibu dan kandungan.

Kapten CKM (K) dr. Aldila Geri Istantina, M.H., Sp.OG resmi mulai bertugas di RSUD Sondosia. Menariknya, pada hari pertama menjalankan tugas, dr. Aldila langsung memberikan pelayanan kepada 12 pasien, terdiri dari 10 pasien rawat jalan dan 2 pasien yang mendapatkan tindakan medis di kamar operasi.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap layanan spesialistik Obgyn di wilayah tersebut cukup tinggi. Kehadiran dokter spesialis baru diharapkan tidak hanya memperkuat kapasitas pelayanan RSUD Sondosia, tetapi juga semakin mendekatkan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan ibu dan kandungan.

Dua pasien bahkan langsung mendapatkan tindakan di kamar operasi sesuai dengan kebutuhan dan indikasi medis. Sementara pasien rawat jalan memperoleh pelayanan pemeriksaan dan konsultasi sesuai kondisi masing-masing.


Selain kompetensi medis, kesan awal pasien terhadap dr. Aldila juga mendapat respons positif. Kehadiran dokter dengan latar belakang militer sempat membuat sebagian pasien merasa sedikit tegang. Namun, suasana tersebut berubah setelah proses pemeriksaan dan komunikasi berlangsung.

Sikap yang ramah, komunikatif, serta penjelasan yang diberikan secara rinci membuat pasien merasa lebih nyaman selama menjalani pemeriksaan.

Salah seorang pasien berinisial AN mengungkapkan pengalamannya melalui akun media sosial.

“1st impression pemeriksaan dan penjelasannya lengkap dan detail. Ditambah beliau ramah dan menyenangkan.”

Kesan positif juga disampaikan pasien lainnya, LM, yang menilai pelayanan di Klinik Kandungan RSUD Sondosia berlangsung dengan baik dan penuh perhatian.

“Pelayanannya baik, ramah dan penuh perhatian, dr. Aldila memberikan penjelasan dengan jelas dan membuat pasien merasa nyaman.”

Respons tersebut menunjukkan bahwa kualitas pelayanan kesehatan tidak hanya dinilai dari tindakan medis, tetapi juga dari bagaimana tenaga kesehatan membangun komunikasi dan rasa aman bagi pasien.

Untuk mendukung kesinambungan pelayanan, dr. Aldila juga direncanakan tinggal di sekitar wilayah RSUD Sondosia, tepatnya di Kecamatan Bolo.



Keberadaan dokter spesialis yang lebih dekat dengan rumah sakit diharapkan dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat pelayanan, terutama ketika masyarakat membutuhkan konsultasi maupun penanganan medis terkait kesehatan reproduksi, kehamilan, persalinan, dan berbagai kondisi ginekologi lainnya.

Dengan bertambahnya tenaga spesialis, masyarakat juga memiliki pilihan pelayanan yang semakin beragam, tentunya dengan tetap menyesuaikan jadwal praktik dan kebutuhan medis masing-masing pasien.

Direktur RSUD Sondosia, Dr. Firman, MPH, menyambut kehadiran dokter spesialis baru tersebut sebagai bagian dari langkah rumah sakit untuk terus berkembang dan meningkatkan akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

“Dengan segala keterbatasan kita, pokoknya kita ingin terus tumbuh, berkembang, memberi manfaat buat masyarakat, mendekatkan akses pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan masyarakat,” ujar Dr. Firman, MPH.

Menurutnya, penguatan sumber daya manusia, khususnya tenaga dokter spesialis, merupakan salah satu bagian penting dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit.

Kehadiran dr. Aldila, Sp.OG sekaligus menambah kekuatan layanan Obgyn di RSUD Sondosia. Bagi masyarakat, bertambahnya dokter spesialis berarti semakin terbukanya akses terhadap pelayanan kesehatan yang kompeten tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke fasilitas kesehatan lainnya.

Lebih dari sekadar penambahan tenaga medis, kehadiran dokter spesialis baru menjadi bagian dari upaya RSUD Sondosia membangun pelayanan kesehatan yang profesional, mudah diakses, komunikatif, dan berorientasi pada kenyamanan serta kebutuhan pasien.

Hari pertama dr. Aldila yang langsung melayani 12 pasien menjadi awal dari harapan baru. Ke depan, masyarakat tentu berharap penguatan tenaga spesialis tersebut dapat berjalan berkelanjutan dan semakin memperluas manfaat pelayanan kesehatan bagi masyarakat Sondosia dan wilayah sekitarnya.

 


“Mari jadikan momentum Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai sarana untuk meneladani akhlak mulia Rasulullah, mempererat persaudaraan, menumbuhkan kepedulian, serta memperkuat semangat kebersamaan dalam membangun Kabupaten Bima yang maju, bermartabat, dan penuh keberkahan.”

Semoga keteladanan Rasulullah SAW senantiasa menjadi inspirasi bagi kita dalam menjalani kehidupan, mengabdi kepada masyarakat, serta mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh umat.

Selamat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H.

Semoga kita semua senantiasa mendapat syafaat dan keberkahan dari Rasulullah SAW. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

 


Bima, Media PilarNTB.com — Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Bima kembali menorehkan catatan penting dalam perjalanan akademiknya melalui pelaksanaan Wisuda Sarjana Angkatan XXIII Tahun 2026. Sebanyak 254 wisudawan dan wisudawati resmi menyelesaikan pendidikan tinggi setelah melalui proses akademik yang panjang, penuh tantangan, serta menuntut ketekunan, disiplin, dan komitmen, kamis (27/07/2026)

Prosesi wisuda berlangsung khidmat dan penuh kebanggaan. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Wali Kota Bima, Bupati Bima, perwakilan LLDIKTI Wilayah VIII, jajaran pimpinan STIE Bima, para dosen, tenaga kependidikan, orang tua, keluarga, serta tamu undangan lainnya.

Wisuda tahun ini mengusung tema “Langkah Hari Ini, Masa Depan Gemilang — Dari STIE Bima untuk Dunia Nyata: Berilmu, Berkarakter, Berdampak Nyata.” Tema tersebut merefleksikan semangat STIE Bima dalam mempersiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, kemampuan beradaptasi, kepedulian sosial, serta keberanian untuk mengambil peran dalam pembangunan.

Momentum wisuda tidak hanya menjadi seremoni penyerahan gelar akademik. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi atas proses pendidikan yang telah dilalui sekaligus penanda dimulainya fase baru bagi para lulusan. Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku kuliah, para sarjana dituntut mampu menerapkan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai karakter yang diperoleh selama menempuh pendidikan di tengah kehidupan profesional dan masyarakat.

Ketua STIE Bima, Firdaus, ST., MM., MM., INOV dalam laporan akademiknya menyampaikan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan. Menurutnya, wisuda merupakan titik awal bagi para lulusan untuk membuktikan kapasitas, kompetensi, dan kontribusi mereka di dunia nyata.

“Wisuda bukan akhir dari proses belajar. Ini adalah awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengimplementasikan ilmu, menjaga integritas, serta memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Firdaus.

Ia menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir STIE Bima terus berupaya memperkuat kualitas akademik, meningkatkan budaya penelitian, serta mendorong mahasiswa dan dosen untuk menghasilkan karya ilmiah yang relevan dengan kebutuhan pembangunan daerah dan masyarakat.

Salah satu capaian penting yang disampaikan dalam kesempatan tersebut adalah meningkatnya budaya penelitian dan publikasi ilmiah di kalangan mahasiswa. Dari total 254 lulusan, sebanyak 165 mahasiswa telah berhasil mempublikasikan tugas akhirnya pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 3 dan SINTA 4.

Menurut Firdaus, capaian tersebut tidak semata-mata diukur dari jumlah publikasi, tetapi juga menjadi indikator berkembangnya budaya akademik di lingkungan STIE Bima. Publikasi ilmiah menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya mampu menyelesaikan tugas akhir sebagai kewajiban akademik, tetapi juga mampu mengolah persoalan menjadi kajian yang memiliki nilai ilmiah dan relevansi praktis.

“Capaian ini bukan sekadar angka. Ini merupakan gambaran bahwa budaya akademik, tradisi penelitian, dan semangat menghasilkan karya ilmiah di STIE Bima terus tumbuh dan berkembang,” katanya.

Firdaus menegaskan, penguatan penelitian dan publikasi ilmiah merupakan bagian penting dari komitmen STIE Bima dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia berpandangan bahwa penelitian di perguruan tinggi tidak boleh berhenti sebagai dokumen akademik yang hanya tersimpan di perpustakaan atau arsip institusi. Penelitian harus mampu membaca persoalan yang dihadapi masyarakat, mengidentifikasi potensi daerah, merumuskan solusi, serta memberikan rekomendasi yang dapat diterapkan secara nyata.

“Penelitian harus berpijak pada persoalan masyarakat. Penelitian harus melahirkan solusi, pengabdian harus memberikan manfaat, dan ilmu pengetahuan harus menjadi kekuatan untuk membangun daya saing serta kemandirian masyarakat,” tegasnya.

Komitmen tersebut juga tercermin dari dukungan pendanaan yang berhasil diperoleh STIE Bima dalam pelaksanaan kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, pendanaan penelitian mencapai Rp1,04 miliar, sementara pendanaan untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat mencapai Rp303 juta.

Dukungan pendanaan tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas ruang gerak sivitas akademika untuk melakukan penelitian, mengembangkan inovasi, serta melaksanakan program pengabdian yang lebih terarah dan berkelanjutan.

Bahkan, pada tahun 2025, pendanaan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi mengalami peningkatan sebesar 113,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut dinilai sebagai indikator keseriusan STIE Bima dalam memperkuat mutu pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan kontribusi institusi terhadap pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat.

Firdaus menyampaikan, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan bahwa proses pendidikan tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah, tetapi juga individu yang mampu berpikir kritis, bekerja secara profesional, menjunjung tinggi etika, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Di hadapan para wisudawan, ia mengingatkan bahwa tantangan yang akan dihadapi setelah menyandang gelar sarjana akan semakin kompleks. Perubahan teknologi yang berlangsung cepat, dinamika dunia kerja, perkembangan model bisnis, transformasi digital, serta tuntutan kompetensi baru mengharuskan lulusan untuk terus belajar dan meningkatkan kapasitas diri.

“Perguruan tinggi tidak boleh berjalan di tempat. Dunia berubah, teknologi berubah, dunia kerja berubah, dan model bisnis juga berubah. Karena itu, pendidikan tinggi harus terus beradaptasi dan melakukan pembaruan,” tegasnya.

Ia menambahkan, gelar sarjana bukanlah jaminan otomatis untuk meraih keberhasilan. Gelar tersebut harus diikuti dengan kemampuan untuk bekerja keras, membangun jejaring, berinovasi, menyelesaikan masalah, serta menjaga kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat dan dunia kerja.

Para lulusan juga diharapkan tidak hanya berorientasi untuk mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan peluang, membangun usaha, mengembangkan potensi daerah, serta menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Jangan hanya menjadi pencari kerja. Jadilah pribadi yang mampu menciptakan peluang, membuka lapangan pekerjaan, dan menghadirkan solusi bagi lingkungan sekitar,” pesannya.

Firdaus berharap para lulusan STIE Bima dapat membawa nama baik almamater di mana pun mereka berada. Ia juga mengingatkan agar para sarjana tetap menjunjung tinggi nilai kejujuran, tanggung jawab, profesionalisme, dan kepedulian sosial dalam menjalankan peran masing-masing.

Menurutnya, keberhasilan seorang lulusan tidak hanya diukur dari jabatan, penghasilan, atau pencapaian material. Keberhasilan juga tercermin dari sejauh mana seseorang mampu memberikan manfaat, menjaga integritas, serta menghadirkan perubahan positif bagi keluarga, lingkungan, daerah, dan bangsa.

Wisuda Sarjana Angkatan XXIII Tahun 2026 akhirnya menjadi simbol berakhirnya satu tahapan pendidikan sekaligus dimulainya perjalanan baru bagi 254 sarjana STIE Bima. Dari ruang-ruang perkuliahan, para lulusan kini melangkah menuju dunia profesional, dunia usaha, pemerintahan, organisasi sosial, maupun berbagai bidang pengabdian lainnya.

Dengan bekal ilmu ekonomi, kompetensi, pengalaman akademik, serta nilai-nilai karakter yang telah dibangun selama berada di lingkungan kampus, para lulusan diharapkan mampu menghadapi perubahan dengan optimisme dan menjadikan setiap tantangan sebagai peluang untuk berkembang.

STIE Bima juga menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat penelitian, memperluas kerja sama, serta menghadirkan program pengabdian yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Institusi tersebut diharapkan terus menjadi bagian penting dalam mencetak sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan zaman dan berkontribusi terhadap kemajuan daerah.

Wisuda Angkatan XXIII Tahun 2026 bukan sekadar perayaan atas keberhasilan akademik. Momentum tersebut merupakan penegasan bahwa pendidikan tinggi harus melahirkan generasi yang memiliki pengetahuan, keterampilan, karakter, dan kepedulian untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Dari STIE Bima untuk dunia nyata: berilmu, berkarakter, dan berdampak nyata.

 


Bima, Media PilarNTB.com — Kondisi lingkungan SMP Negeri 5 Palibelo, Kabupaten Bima, NTB, menjadi perhatian serius. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi peserta didik untuk menimba ilmu tersebut hingga kini masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar, mulai dari tidak adanya pagar sekolah hingga persoalan banjir yang terus berulang.

Ketiadaan pagar membuat lingkungan sekolah terbuka dan kerap dilalui ternak milik masyarakat. Hampir setiap hari, hewan ternak terlihat lalu-lalang di area sekolah sehingga kondisi lingkungan menjadi kurang bersih. Kotoran hewan juga ditemukan di sejumlah titik dan berpotensi mengganggu kenyamanan serta kebersihan lingkungan belajar para siswa.

Persoalan tersebut semakin memprihatinkan ketika musim hujan tiba. SMPN 5 Palibelo disebut telah menjadi kawasan langganan banjir selama kurang lebih enam tahun terakhir. Kondisi itu diduga berkaitan dengan perubahan aliran air setelah pembangunan jalan melalui program aspirasi DPRD yang, menurut pihak sekolah, tidak dilengkapi saluran drainase atau got yang memadai.

Akibatnya, ketika hujan deras turun, aliran air dari sejumlah titik tidak memiliki jalur pembuangan yang optimal dan meluap menuju lingkungan sekolah. Genangan air kemudian mengganggu aktivitas belajar mengajar serta membuat kondisi halaman sekolah menjadi becek dan sulit digunakan.

Kepala SMPN 5 Palibelo, Nurwahidah, S.Pd., mengaku prihatin melihat kondisi sekolah yang harus dihadapi para guru dan siswa. Menurutnya, persoalan tersebut bukan sekadar menyangkut fasilitas fisik, tetapi juga berkaitan langsung dengan kenyamanan dan keselamatan anak-anak dalam mengikuti proses pendidikan.

“Kami merasa kasihan melihat kondisi sekolah, terutama anak-anak yang ingin belajar dengan nyaman. Kami berharap persoalan ini mendapat perhatian serius dari pemerintah,” ujar Nurwahidah.

Pihak sekolah berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Bima dapat turun langsung melihat kondisi SMPN 5 Palibelo dan mencari solusi terhadap persoalan pagar maupun sistem drainase di sekitar sekolah.

Pembangunan pagar dinilai penting untuk menjaga lingkungan sekolah agar lebih tertib, bersih, dan aman dari aktivitas ternak yang masuk ke area pendidikan. Sementara itu, pembenahan drainase diperlukan agar aliran air saat musim hujan dapat diarahkan dengan baik dan tidak kembali menggenangi lingkungan sekolah.

Harapan besar kini tertuju kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Bima agar persoalan yang telah berlangsung bertahun-tahun tersebut tidak dibiarkan berlarut. Sebab, lingkungan pendidikan yang layak bukan sekadar persoalan infrastruktur, melainkan bagian penting dalam menciptakan proses belajar yang aman, nyaman, dan bermutu bagi generasi penerus daerah.


Penulis: Jubair ar-Qamar 

Media PilarNTB.com — Mengawal Pendidikan, Menyuarakan Aspirasi Masyarakat.



Bima, Media PilarNTB.com — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-32 SMA Negeri 1 Belo berlangsung meriah dan penuh nuansa kekeluargaan. Senin (24/08/026), Mengusung tema “Bangkit dalam Harmoni dalam Membentuk Generasi Berbudi Pekerti Luhur, Cerdas dan Berprestasi”, momentum tersebut menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan komitmen seluruh keluarga besar sekolah untuk terus meningkatkan mutu pendidikan dan membentuk generasi yang unggul.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala SMA Negeri 1 Belo, Wahyuddin, S.Pd., Kepala KCD Dikpora Wilayah VI Fahmi Hatib, perwakilan Camat Belo,  Danramil 1608/04 Woha, sejumlah kepala sekolah, kepala desa, guru dan tenaga kependidikan, komite sekolah, alumni, serta keluarga besar SMA Negeri 1 Belo.

Dalam sambutannya, Kepala SMA Negeri 1 Belo, Wahyuddin, S.Pd., menyampaikan rasa syukur karena sekolah yang dipimpinnya telah memasuki usia ke-32 tahun. Menurutnya, perjalanan panjang tersebut bukan sekadar angka, tetapi merupakan sejarah pengabdian yang telah melewati berbagai generasi dan melahirkan banyak lulusan yang berkontribusi di tengah masyarakat.

“HUT ke-32 ini bukan hanya momentum untuk merayakan bertambahnya usia sekolah, tetapi menjadi momentum bagi kita semua untuk melakukan refleksi. Sudah sejauh mana SMA Negeri 1 Belo memberikan kontribusi bagi pendidikan, bagi masyarakat, dan bagi masa depan anak-anak kita.”

Wahyuddin menegaskan, pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Sekolah juga memiliki tanggung jawab besar dalam membangun karakter, kedisiplinan, akhlak, kreativitas, kepemimpinan dan semangat kebersamaan peserta didik.

“Kami ingin anak-anak SMA Negeri 1 Belo tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki budi pekerti luhur, berkarakter, disiplin, kreatif, mampu bekerja sama dan memiliki keberanian untuk meraih prestasi. Karena kecerdasan tanpa karakter tidak akan cukup untuk menghadapi tantangan masa depan.”

Ia juga memberikan apresiasi kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan SMA Negeri 1 Belo. Menurutnya, keberhasilan sekolah tidak dapat dilepaskan dari kerja keras, ketulusan dan dedikasi para pendidik dalam mendampingi peserta didik.

“Kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan, saya menyampaikan terima kasih atas dedikasi dan pengabdiannya. Mari kita terus menjaga kekompakan dan membangun budaya kerja yang positif. Dengan kebersamaan, saya yakin SMA Negeri 1 Belo akan semakin maju dan mampu memberikan pelayanan pendidikan yang terbaik,” ujarnya.

Kepala sekolah juga menyampaikan apresiasi kepada para alumni yang hadir dan ikut memeriahkan HUT ke-32. Kehadiran alumni dinilai menjadi bukti bahwa hubungan antara sekolah dan lulusannya tidak berhenti setelah mereka meninggalkan bangku pendidikan.

“Kami sangat bangga dan berterima kasih kepada para alumni yang masih memiliki rasa cinta terhadap almamater. Kehadiran alumni hari ini menjadi energi positif bagi sekolah dan anak-anak kita. Semoga hubungan kekeluargaan ini terus terjaga dan alumni dapat terus memberikan kontribusi bagi kemajuan SMA Negeri 1 Belo.”

Kemariahan peringatan HUT semakin terasa dengan berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya. Sejumlah perlombaan digelar untuk membangun semangat sportivitas, kreativitas dan kebersamaan, di antaranya tarik tambang, lomba memasak antarguru, senam dan tari kreasi, penilaian kelas, lomba menyanyi solo serta berbagai perlombaan senam.

Pada puncak perayaan, pembagian hadiah kepada para pemenang berlangsung meriah. Para siswa, guru dan keluarga besar sekolah memberikan dukungan penuh terhadap setiap rangkaian kegiatan.

Tidak hanya perlombaan, penampilan Pramuka dan Paskibra turut menjadi bagian menarik dalam puncak HUT ke-32. Atraksi tersebut memperlihatkan kedisiplinan, kekompakan, keberanian dan kreativitas para siswa SMA Negeri 1 Belo.

Suasana semakin semarak dengan kehadiran alumni yang turut menghibur para tamu dan keluarga besar sekolah. Salah seorang alumni tahun 2010 yang dikenal memiliki suara merdu dan pernah mengikuti Academy 3 Anggun Bima tampil membawakan sejumlah lagu, sehingga menambah keakraban dan kemeriahan acara.

Dalam kesempatan tersebut, Wahyuddin juga mengajak seluruh keluarga besar SMA Negeri 1 Belo untuk menjadikan tema HUT ke-32 sebagai semangat bersama dalam membangun sekolah.

“Bangkit dalam harmoni berarti kita harus bergerak bersama. Tidak ada keberhasilan yang dibangun seorang diri. Guru, siswa, orang tua, komite, alumni dan masyarakat memiliki peran masing-masing. Jika kita bersatu dalam semangat dan tujuan yang sama, insyaallah SMA Negeri 1 Belo akan semakin maju dan berprestasi.”

Ia berharap momentum HUT ke-32 menjadi titik penguatan untuk menghadirkan berbagai inovasi dalam pembelajaran serta meningkatkan prestasi peserta didik, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

“Harapan kami ke depan, SMA Negeri 1 Belo semakin dipercaya masyarakat, semakin banyak melahirkan siswa berprestasi dan alumni yang membanggakan. Kami ingin sekolah ini menjadi tempat yang mampu menyiapkan generasi yang tidak hanya siap melanjutkan pendidikan, tetapi juga siap menghadapi kehidupan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.”

Sementara itu, kehadiran sejumlah tokoh pendidikan dan pemerintahan turut memberikan makna tersendiri bagi peringatan HUT ke-32 tersebut. Di antaranya Kartini, S.Pd., Kepala SMPN 2 Belo; Rabiatul A., S.Pd., Kepala MTs Asyadiyah Ngali; Suriansyah, S.Pd., Kepala SDN 2 Cenggu; Safruddi, Kepala Desa Cenggu; Ardiansyah, Kepala Desa Soki; para ibu Dharma Wanita yang diketuai Yeti Rosmiati, S.Pd.; Ketua Komite SMA Negeri 1 Belo H. Hurman H. A. Wahab; serta jajaran guru, tenaga kependidikan dan keluarga besar alumni.

Peringatan HUT ke-32 SMA Negeri 1 Belo akhirnya bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat silaturahmi, mengenang perjalanan panjang almamater, memberikan apresiasi kepada seluruh elemen sekolah, sekaligus meneguhkan tekad bersama dalam membangun pendidikan yang berkualitas.

Dengan semangat “Bangkit dalam Harmoni”, SMA Negeri 1 Belo diharapkan terus tumbuh sebagai lembaga pendidikan yang mampu mencetak generasi berbudi pekerti luhur, cerdas, berprestasi, berkarakter dan siap menghadapi tantangan masa depan.

Selamat HUT ke-32 SMA Negeri 1 Belo. Terus bangkit, terus berkarya dan terus melahirkan generasi terbaik untuk Bima dan Indonesia.


Penulis Jubair ar-Qamar 

Media PilarNTB.com-Mengabarkan Fakta, Mengawal Informasi, Membangun Daerah.

Diberdayakan oleh Blogger.