BIMA, pilarNTB.com — Kondisi sarana dan prasarana pendidikan di SD Negeri Runggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, mendapat perhatian serius dari pihak sekolah. Kepala SDN Runggu, Bambang, S.Pd., bersama keluarga besar sekolah menyampaikan surat terbuka kepada Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, sebagai bentuk ikhtiar untuk mendorong perhatian pemerintah terhadap kondisi ruang kelas yang dinilai membutuhkan perbaikan.

Surat terbuka tersebut disampaikan pada 26 September 2026, dengan membawa harapan agar pemerintah pusat dapat memberikan perhatian terhadap kebutuhan sarana pendidikan di SDN Runggu, khususnya terhadap sejumlah ruang kelas yang kondisinya sudah tidak layak digunakan secara optimal.

Dalam surat tersebut, pihak sekolah menegaskan bahwa persoalan sarana pendidikan bukan semata-mata menyangkut kondisi fisik bangunan. Kondisi ruang belajar yang kurang memadai juga berkaitan dengan aspek keamanan, kenyamanan, kesehatan, serta kualitas proses pembelajaran bagi peserta didik dan guru.

SDN Runggu menjadi salah satu tempat penting bagi anak-anak di wilayah Runggu untuk mendapatkan pendidikan dasar, membangun karakter, mengembangkan potensi, serta mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Di tengah keterbatasan tersebut, para guru dan peserta didik tetap berupaya menjalankan kegiatan belajar mengajar. Namun, pihak sekolah berharap kondisi bangunan yang membutuhkan perhatian tidak menjadi hambatan bagi anak-anak dalam memperoleh hak mereka atas pendidikan yang aman, nyaman, layak, dan bermutu.



Melalui surat terbuka itu, Kepala SDN Runggu bersama keluarga besar sekolah meminta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI beserta jajaran terkait agar dapat memberikan perhatian terhadap kondisi sarana dan prasarana sekolah.

Pihak sekolah juga berharap pemerintah dapat melakukan verifikasi atau peninjauan langsung terhadap kondisi bangunan SDN Runggu, sehingga kebutuhan rehabilitasi maupun pembangunan ruang kelas dapat diketahui secara objektif sesuai kondisi di lapangan.

Adapun beberapa permohonan yang disampaikan dalam surat terbuka tersebut, yakni perhatian terhadap kondisi sarana dan prasarana SDN Runggu, verifikasi kondisi bangunan sekolah, dukungan program rehabilitasi dan/atau pembangunan ruang kelas sesuai kebutuhan, serta dukungan untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, sehat, dan layak bagi peserta didik maupun tenaga pendidik.

“Kami tidak hanya berbicara tentang bangunan, tetapi tentang masa depan anak-anak,” demikian semangat yang menjadi dasar penyampaian surat terbuka tersebut.

Pihak sekolah berharap perhatian pemerintah terhadap SDN Runggu dapat menjadi langkah nyata dalam meningkatkan kualitas layanan pendidikan bagi peserta didik di daerah.

Menurut keluarga besar SDN Runggu, setiap ruang kelas yang diperbaiki bukan hanya memperbaiki bangunan, tetapi juga membuka ruang bagi anak-anak untuk belajar, tumbuh, dan mengejar cita-cita mereka.

Surat terbuka tersebut ditandatangani atas nama Keluarga Besar SD Negeri Runggu, yang terdiri dari Kepala Sekolah, guru, komite sekolah, orang tua/wali peserta didik, serta masyarakat.

Melalui surat tersebut, keluarga besar SDN Runggu menyampaikan harapan agar pemerintah dapat melihat langsung kondisi sekolah dan memberikan solusi sesuai kebutuhan, sehingga proses pendidikan di SDN Runggu dapat berlangsung dalam lingkungan yang lebih aman, nyaman, dan layak.

“Pendidikan bukan hanya tentang membangun gedung, tetapi membangun manusia dan masa depan bangsa.”


Penulis: Jubair ar-Qamar

Pimpinan redaksi 

Media PilarNTB

 


DONGGO, Media PilarNTB.com— Puskesmas Donggo terus mendorong penguatan perhatian terhadap kesehatan psikologis di lingkungan pendidikan melalui kegiatan fasilitasi pelaksanaan First Aider Pertolongan Pertama Luka Psikologis (P3LP) bagi satuan pendidikan jenjang SMP dan SMA di wilayah kerja Puskesmas Donggo, Rabu (23/09/2026).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas lingkungan sekolah dalam memberikan respons awal terhadap peserta didik yang menghadapi persoalan psikologis, tekanan emosional, maupun kondisi yang membutuhkan perhatian dan pendampingan lebih lanjut.

Kepala Puskesmas Donggo, Sri Hartati, S.Kep., Ns., menekankan pentingnya membangun lingkungan sekolah yang mampu memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis peserta didik. Menurutnya, kesehatan siswa tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga mencakup kesehatan mental dan emosional. Jelasnya

Melalui kegiatan First Aider P3LP, pihak sekolah diharapkan memiliki pemahaman dan keterampilan dasar untuk mengenali tanda-tanda awal permasalahan psikologis pada siswa, memberikan dukungan awal secara tepat, serta mengetahui langkah yang perlu dilakukan apabila seorang siswa membutuhkan penanganan atau rujukan kepada tenaga profesional.

Pendekatan tersebut penting mengingat sekolah merupakan salah satu lingkungan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Guru dan tenaga pendidik memiliki kesempatan untuk melihat perubahan perilaku maupun kondisi emosional siswa sehingga dapat menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan dan penanganan sejak dini.

Kegiatan ini juga diharapkan dapat memperkuat sinergi antara Puskesmas Donggo dan satuan pendidikan tingkat SMP maupun SMA dalam menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, suportif, dan memberikan ruang bagi peserta didik untuk mendapatkan bantuan ketika menghadapi persoalan.

Dengan adanya fasilitasi First Aider P3LP, Puskesmas Donggo berupaya memperluas pemahaman bahwa pertolongan pertama tidak hanya diberikan ketika seseorang mengalami luka secara fisik, tetapi juga diperlukan ketika seseorang menghadapi tekanan atau luka psikologis yang membutuhkan perhatian dan dukungan.

Upaya tersebut diharapkan dapat menjadi langkah positif dalam membangun kepedulian terhadap kesehatan psikologis peserta didik sekaligus memperkuat sistem dukungan di lingkungan sekolah.

Media PilarNTB — Mengabarkan Fakta, Mengawal Kepentingan Publik.


 


TAMBE, Media pilarNTB.com— Upaya meningkatkan pengetahuan orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi anak terus dilakukan melalui kegiatan Kelas Ibu Balita di Desa Tambe, Rabu(23/09/2026)

Kegiatan tersebut menyasar sebanyak 15 orang ibu yang memiliki balita, dengan materi utama mengenai pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) bagi anak usia 6–12 bulan

Kegiatan ini menjadi salah satu sarana edukasi bagi para ibu untuk memahami pentingnya pemberian makanan yang sesuai dengan usia, kebutuhan gizi, tekstur, porsi, serta frekuensi makan anak, khususnya pada masa awal anak mulai mengenal makanan selain ASI.

Dalam penyampaian materi, para ibu diberikan pemahaman bahwa MP-ASI mulai diperkenalkan ketika anak memasuki usia 6 bulan, karena pada usia tersebut kebutuhan energi dan zat gizi anak mulai meningkat sehingga ASI saja tidak lagi mencukupi seluruh kebutuhan gizinya. Meski demikian, pemberian MP-ASI tetap perlu dilakukan dengan tetap melanjutkan pemberian ASI.

MP-ASI yang diberikan juga perlu memperhatikan prinsip gizi seimbang dan keamanan pangan, dengan mengutamakan bahan makanan yang beragam serta sumber protein hewani dan nabati, sayur, buah, dan sumber energi sesuai kebutuhan anak.

Selain jenis makanan, tekstur MP-ASI juga harus disesuaikan dengan perkembangan kemampuan makan anak. Seiring bertambahnya usia, tekstur makanan dapat ditingkatkan secara bertahap agar anak terbiasa mengunyah dan menerima berbagai jenis makanan.

Melalui Kelas Ibu Balita ini, para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam pola pemberian makanan sehari-hari di rumah. Pengetahuan orang tua dinilai penting karena kualitas asupan makanan pada masa pertumbuhan turut mendukung tumbuh kembang anak.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi para ibu untuk berdiskusi dan memperoleh pemahaman yang lebih tepat mengenai pemberian MP-ASI, sehingga diharapkan dapat mencegah kesalahan dalam pemberian makanan dan membantu memenuhi kebutuhan gizi anak secara optimal.

Dengan adanya edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan di tingkat desa, Kelas Ibu Balita diharapkan dapat memperkuat peran keluarga dalam menjaga kesehatan, pertumbuhan, dan perkembangan anak sejak usia dini.


Penulis: Jubair ar-Qamar 

Pimpinan redaksi PilarNTB 

 


BIMA, media PilarNTB.com— Suasana penuh kebanggaan dan haru mewarnai pelaksanaan upacara di SDN Runggu Senin (21/09/2026). Sejumlah petugas upacara yang tampil di hadapan seluruh warga sekolah merupakan siswa kelas 1 dan 2 yang masih berada pada tahap awal belajar keberanian, kedisiplinan, dan rasa percaya diri.

Meski masih tergolong sangat muda, para siswa tersebut mampu menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Mereka berdiri di hadapan guru dan seluruh siswa, melaksanakan setiap tugas dalam rangkaian upacara dengan semangat dan keberanian.

Bagi Kepala SDN Runggu, Bambang, S.Pd, penampilan anak-anak tersebut bukan sekadar bagian dari pelaksanaan upacara rutin. Lebih dari itu, keberanian mereka tampil di depan umum merupakan proses penting dalam membentuk karakter dan kepercayaan diri sejak usia dini.

“Bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana. Namun bagi kami, keberanian anak-anak untuk tampil di depan merupakan sebuah pencapaian yang patut diapresiasi,” demikian semangat yang tergambar dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.



Menurutnya, anak-anak perlu diberikan ruang untuk mencoba, belajar bertanggung jawab, dan berani tampil sejak dini. Dari pengalaman sederhana seperti menjadi petugas upacara, mereka belajar tentang disiplin, kerja sama, tanggung jawab, sekaligus keberanian menghadapi banyak orang.

Kebanggaan pun terlihat dari semangat warga sekolah menyaksikan penampilan para petugas cilik tersebut. Meski masih kecil dan masih dalam proses belajar, mereka telah menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu datang dari usia, tetapi dapat tumbuh ketika anak diberikan kepercayaan dan kesempatan.

Kepala SDN Runggu, Bambang, S.Pd, terus mendorong agar para siswa tumbuh menjadi generasi yang percaya diri, berkarakter, disiplin, dan memiliki semangat untuk belajar.

Hari ini mereka mungkin baru berdiri di depan sebagai petugas upacara. Namun dari langkah kecil itulah, mereka sedang belajar mempersiapkan diri untuk berdiri lebih jauh dalam mengejar cita-cita dan masa depan. Ungkapnya



 


BIMA, media pilarNTB.com   Upaya membangun kesadaran hidup sehat dan pemenuhan gizi di kalangan remaja terus digencarkan. Puskesmas Bolo bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Bima melaksanakan Gerakan Aksi Bergizi, yang dirangkaikan dengan kegiatan minum Tablet Tambah Darah (TTD) secara serentak bagi siswa dan siswi.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di SMP Negeri 1 Bolo dan SMP Negeri 2 Bolo, dengan melibatkan peserta didik serta pihak sekolah sebagai bagian dari gerakan bersama dalam meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan dan gizi sejak usia remaja.

Gerakan Aksi Bergizi menjadi momentum penting untuk memberikan pemahaman kepada para pelajar bahwa kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pengobatan ketika sakit, tetapi juga bagaimana menjaga tubuh melalui pola hidup sehat, asupan makanan bergizi seimbang, serta kebiasaan yang mendukung tumbuh kembang remaja.

Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah minum Tablet Tambah Darah secara serentak dengan pendampingan tenaga kesehatan dan pihak sekolah. Pemberian TTD merupakan salah satu upaya pencegahan anemia pada remaja, terutama remaja putri yang memiliki kebutuhan zat besi lebih tinggi.

Anemia pada remaja perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi kondisi fisik dan konsentrasi dalam mengikuti proses pembelajaran. Karena itu, edukasi mengenai pentingnya asupan gizi dan konsumsi TTD menjadi bagian penting dalam membangun generasi muda yang sehat dan produktif.

Kolaborasi antara Puskesmas Bolo, Dinas Kesehatan Kabupaten Bima, dan pihak sekolah diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Edukasi kesehatan diharapkan dapat terus dilakukan secara berkelanjutan sehingga para pelajar mampu menerapkan kebiasaan hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui Gerakan Aksi Bergizi tersebut, para siswa juga didorong untuk memiliki kesadaran bahwa menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Sekolah menjadi salah satu lingkungan strategis untuk menanamkan kebiasaan positif sekaligus membentuk perilaku hidup sehat sejak dini.

Kegiatan di SMP Negeri 1 Bolo dan SMP Negeri 2 Bolo ini sekaligus menunjukkan pentingnya sinergi antara sektor kesehatan dan pendidikan dalam mendukung kualitas generasi muda.

Dengan gerakan yang dilakukan secara bersama dan berkelanjutan, diharapkan para pelajar di Kecamatan Bolo dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat, aktif, produktif, dan memiliki kesadaran kuat terhadap pentingnya gizi serta kesehatan diri.

 


BIMA, media  pilarNTB.COM — Upacara bendera yang digelar di SMP Negeri 5 Palibelo, Kabupaten Bima, Senin (14/9/2026), dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah, Nurwahidah, S.Pd. Dalam kesempatan tersebut, kepala sekolah menegaskan pentingnya kedisiplinan guru dan siswa sebagai bagian dari upaya menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif dan tertib.

Salah satu penekanan yang disampaikan adalah terkait kedisiplinan jam pulang guru. Kepala sekolah meminta agar guru tidak meninggalkan sekolah sebelum waktu yang telah ditentukan, terutama ketika masih terdapat kegiatan dan tanggung jawab yang harus dilaksanakan bersama siswa.

Menurut Nurwahidah, kedisiplinan guru sangat penting karena guru merupakan figur yang menjadi contoh bagi peserta didik.

Selain persoalan jam kerja, pihak sekolah juga mendorong guru untuk melakukan pengawasan terhadap perlengkapan yang dibawa siswa ke sekolah. Barang-barang yang tidak berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran, seperti bedak, gincu atau perlengkapan kosmetik lainnya, diharapkan tidak dibawa ke lingkungan sekolah apabila tidak memiliki kepentingan dalam kegiatan pendidikan.

Langkah tersebut dilakukan bukan semata-mata untuk membatasi siswa, tetapi sebagai bagian dari pembinaan disiplin agar peserta didik dapat lebih fokus mengikuti proses belajar mengajar.

Dalam rangka meningkatkan kemampuan membaca dan memahami isi bacaan, SMPN 5 Palibelo juga mulai menerapkan program literasi yang dijadwalkan setiap Selasa dan Rabu.

Program tersebut berlangsung selama 40 menit. Dari waktu tersebut, sekitar 10 menit digunakan siswa untuk membaca, sedangkan 30 menit berikutnya digunakan untuk menyimpulkan dan menyampaikan kembali pemahaman terhadap bahan bacaan yang telah dibaca.

Kepala sekolah menjelaskan bahwa program ini tidak hanya bertujuan membiasakan siswa membaca, tetapi juga untuk melihat sejauh mana perkembangan kemampuan mereka dalam memahami serta mengolah informasi.

Dengan demikian, siswa tidak sekadar membaca, tetapi juga dituntut mampu memahami isi bacaan dan mengungkapkan kembali apa yang telah mereka dapatkan.

Selain program literasi, sekolah juga menekankan pelaksanaan shalat Zuhur berjamaah yang dilakukan secara rutin setiap hari.

Nurwahidah menegaskan, kedisiplinan guru berkaitan erat dengan pelaksanaan kegiatan tersebut. Guru diharapkan tetap berada di sekolah dan ikut mengoordinasikan siswa ketika memasuki waktu shalat.

Sekitar pukul 12.00 WITA, siswa akan diarahkan menuju mushola untuk mempersiapkan pelaksanaan shalat Zuhur berjamaah.

"Itulah tujuan saya menertibkan guru. Kalau guru-gurunya pulang duluan, lalu siapa yang akan mengoordinasikan anak-anak?" tegas Nurwahidah.

Menurutnya, keberadaan guru sangat dibutuhkan untuk memastikan kegiatan siswa tetap berjalan tertib, termasuk dalam pelaksanaan kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah.


Untuk memperkuat pengawasan selama proses pembelajaran, pihak sekolah juga menerapkan kebijakan penguncian gerbang sekolah pada jam belajar.

Kebijakan tersebut bertujuan mencegah siswa keluar-masuk lingkungan sekolah tanpa alasan yang jelas selama kegiatan belajar berlangsung. Dengan pengawasan yang lebih ketat, sekolah berharap suasana pembelajaran dapat berlangsung lebih aman, tertib dan kondusif.

Kepala sekolah berharap seluruh aturan tersebut dapat dipahami dan dilaksanakan bersama, baik oleh guru maupun siswa.

Menurutnya, kedisiplinan tidak boleh hanya dibebankan kepada peserta didik. Guru sebagai tenaga pendidik juga harus memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah.

"Guru itu adalah contoh bagi anak-anak. Saya tidak mau guru-guru kesayangan saya di sini justru menjadi contoh yang kurang baik bagi anak-anak didik saya," ungkapnya.

Nurwahidah berharap penerapan berbagai aturan dan program tersebut ke depan dapat membangun budaya disiplin di SMPN 5 Palibelo. Dengan guru yang disiplin dan siswa yang tertib, proses pembelajaran diharapkan menjadi lebih efektif sehingga tujuan pendidikan di sekolah dapat tercapai dengan lebih baik.


Penulis Jubair ar-Qamar 

PILARNTB.COM — Disiplin, Literasi, dan Keteladanan untuk Pendidikan yang Lebih Baik.

 


BIMA, Media pilarNTB.com— Unit Inafis Satreskrim Polres Bima Kabupaten Polda NTB melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) terkait penemuan janin bayi laki-laki di sebuah got di Desa Runggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 08.30 WITA.

Janin tersebut ditemukan warga pada pagi hari sebelum kemudian dilaporkan kepada pihak kepolisian. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis sementara, janin berjenis kelamin laki-laki tersebut diperkirakan berusia sekitar 4,6 bulan dalam kandungan.

Dalam proses olah TKP, petugas Inafis melakukan sejumlah tindakan kepolisian, di antaranya pengamatan terhadap kondisi lokasi, pemotretan TKP secara umum dan khusus, serta membuat sketsa lokasi kejadian untuk mendukung proses penyelidikan.

Penemuan janin itu bermula sekitar pukul 05.30 WITA. Seorang warga berinisial IS (laki-laki) sedang membersihkan got di sekitar rumahnya. Saat itu, ia menemukan benda yang awalnya diduga sebagai janin atau bangkai hewan.

IS kemudian mengangkat benda tersebut menggunakan sekop kecil dengan maksud membuangnya ke sungai. Namun, dalam perjalanan, ia menyadari bahwa benda tersebut merupakan janin manusia. Ia kemudian mengurungkan niatnya dan memberitahukan penemuan tersebut kepada warga lainnya.

Seorang warga berinisial M kemudian datang ke lokasi. Awalnya, M berniat menguburkan janin tersebut. Namun setelah melihat kondisinya, M mengambil kain kafan untuk membungkus janin tersebut dan selanjutnya menghubungi anggota Polsek Belo agar dilakukan pengecekan di lokasi.

Tidak lama berselang, personel Polsek Belo tiba di TKP dan melakukan serangkaian langkah penyelidikan awal. Polisi kemudian berkoordinasi dengan Unit Inafis Satreskrim Polres Bima Kabupaten untuk melakukan olah TKP dan pemeriksaan lebih lanjut.

Dari hasil penyelidikan awal, polisi memperoleh informasi mengenai seorang perempuan warga setempat yang diduga baru melahirkan. Menindaklanjuti informasi tersebut, Kapolsek Belo Iptu Johansyah mendatangi kediaman perempuan berinisial DEP (19), warga Desa Runggu.

Dalam pemeriksaan awal, DEP disebut mengakui perbuatannya. Polisi kemudian mengamankan yang bersangkutan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di Mapolsek sebelum proses penanganannya diserahkan kepada Unit PPA Satreskrim Polres Bima Kabupaten.

Kapolres Bima AKBP Muhammad Anton Bhayangkara Gaisar, S.I.K., M.H., melalui Kapolsek Belo Iptu Johansyah, membenarkan adanya penanganan kasus penemuan janin tersebut.

Menurutnya, motif di balik tindakan yang dilakukan perempuan tersebut masih dalam proses pendalaman oleh penyidik.

“Hingga saat ini kami masih melakukan pemeriksaan secara intensif,” ujar Iptu Johansyah.

Polisi masih melakukan serangkaian pemeriksaan untuk mengungkap secara utuh kronologi, motif, serta pihak-pihak yang berkaitan dengan peristiwa tersebut. Proses hukum selanjutnya akan ditentukan berdasarkan hasil penyelidikan, pemeriksaan saksi, keterangan pihak yang diamankan, serta alat bukti yang diperoleh penyidik.

Seluruh rangkaian kegiatan kepolisian di lokasi berlangsung aman dan lancar. Situasi keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah hukum Polsek Belo juga dilaporkan tetap kondusif.

 


BIMA, Media PilarNTB.com — Penemuan jasad bayi laki-laki di dalam sebuah got di wilayah Desa Runggu, Kabupaten Bima, mendapat perhatian serius dari Ahmad, SH selaku kuasa hukum. Ia meminta aparat kepolisian segera melakukan penyelidikan secara serius dan menyeluruh untuk mengungkap fakta di balik peristiwa tersebut.

Ahmad menilai, kasus penemuan bayi tersebut tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Terlebih, kondisi dan lokasi ditemukannya jasad bayi menimbulkan sejumlah pertanyaan di tengah masyarakat mengenai bagaimana peristiwa tersebut terjadi dan siapa yang bertanggung jawab.

Karena itu, Ahmad meminta Polres Bima bergerak cepat untuk mengungkap kasus tersebut berdasarkan fakta dan alat bukti yang ditemukan di lapangan.

“Ini bukan persoalan kecil. Ada nyawa manusia yang menjadi korban. Kami meminta pihak kepolisian segera melakukan penyelidikan secara serius agar masyarakat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi,” ujar Ahmad, SH.

Menurut Ahmad, langkah kepolisian perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemeriksaan lokasi kejadian, pengumpulan barang bukti, pemeriksaan saksi-saksi, hingga pemeriksaan medis atau forensik terhadap jasad bayi apabila diperlukan.

Ia juga meminta polisi menelusuri kemungkinan adanya pihak yang mengetahui atau terlibat dalam peristiwa tersebut. Namun, seluruh dugaan tersebut harus dibuktikan melalui proses penyelidikan dan penyidikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Jangan sampai kasus ini hanya berhenti pada laporan penemuan bayi. Harus ditelusuri sampai terang. Siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana bayi tersebut bisa berada di lokasi itu, semuanya harus berdasarkan fakta dan bukti,” tegasnya.

Ahmad berharap Polres Bima dapat memberikan perhatian serius terhadap kasus tersebut dan segera menyampaikan perkembangan penanganannya kepada masyarakat. Menurutnya, keterbukaan informasi mengenai perkembangan penyelidikan penting agar tidak muncul berbagai spekulasi yang dapat meresahkan masyarakat.

Di sisi lain, Ahmad mengingatkan seluruh pihak agar tidak terburu-buru menyimpulkan siapa yang bersalah sebelum adanya hasil penyelidikan dan bukti yang sah dari aparat penegak hukum.

“Kita serahkan prosesnya kepada kepolisian. Yang kami minta adalah kasus ini segera diungkap secara profesional, transparan, dan berdasarkan bukti. Masyarakat berhak mengetahui kebenaran dari peristiwa ini,” pungkas Ahmad, SH.


Media PilarNTB.com — Mengabarkan Fakta, Mengawal Kebenaran.

 


BIMA Media pilarNTB.com.,—Warga Desa Runggu, Kecamatan Belo, Kabupaten Bima, dikejutkan dengan penemuan jasad bayi laki-laki di sebuah got kecil di wilayah RT 08, Sabtu (12/9/2026) sekitar pukul 06.00 WITA.

Informasi awal yang dihimpun dari masyarakat setempat menyebutkan, jasad bayi tersebut pertama kali ditemukan oleh seorang warga berinisial (i) saat sedang membersihkan halaman dan saluran got di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

Awalnya, berinisial (i) mengira benda yang berada di dalam got tersebut merupakan bangkai hewan yang hendak dibuang bersama sampah. Namun, setelah diperhatikan lebih dekat, ia mulai curiga bahwa benda tersebut bukan bangkai ayam maupun bebek, melainkan jasad seorang bayi.

Kecurigaan tersebut kemudian disampaikan kepada warga lainnya, termasuk berinisial (m). Setelah melihat secara langsung, berinisial (m) juga menduga bahwa benda tersebut merupakan jasad manusia.

Keduanya kemudian memanggil warga sekitar untuk memastikan temuan tersebut. Warga yang datang kemudian melaporkan kejadian itu kepada pihak terkait.

Informasi mengenai penemuan jasad bayi laki-laki tersebut juga disampaikan oleh Babinsa Desa Runggu,  yang kemudian turut melakukan koordinasi terkait penanganan temuan tersebut.

Berdasarkan keterangan  teman2 puskesmas belo bayi tersebut diperkirakan masih berusia 4 bulan. Namun, terkait penyebab kematiannya masih menunggu pemeriksaan dan keterangan resmi dari pihak berwenang.

Penemuan tersebut sontak mengundang perhatian warga sekitar. Masyarakat berharap aparat segera melakukan penyelidikan secara menyeluruh untuk mengungkap siapa yang membuang jasad bayi tersebut dan bagaimana kronologi sebenarnya hingga bayi ditemukan di dalam got.

Hingga berita ini diturunkan, identitas bayi maupun pihak yang diduga bertanggung jawab belum diketahui secara pasti. Pihak berwenang diharapkan segera melakukan pemeriksaan dan penyelidikan guna mengungkap fakta di balik penemuan jasad bayi laki-laki tersebut.

Media PilarNTB.com akan terus mengikuti perkembangan kasus ini berdasarkan informasi dan keterangan resmi dari pihak berwenang.



Media pilarNTB 


 


BIMA ,media PilarNTB.com.    Upaya penyelesaian secara damai dan kekeluargaan dalam persoalan yang melibatkan JF disebut telah beberapa kali dilakukan. Namun, sejumlah agenda pertemuan yang diharapkan menjadi ruang dialog untuk mempertemukan para pihak hingga kini belum terlaksana.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, upaya mediasi bahkan disebut pernah dilakukan dengan cara menunggu pihak JF di wilayah Rabakodo sebanyak dua kali setelah sebelumnya terdapat kesepakatan atau janji untuk bertemu. Namun, pertemuan tersebut tidak berlangsung sebagaimana yang diharapkan.

Salah satu agenda mediasi yang juga menjadi bagian dari rangkaian upaya penyelesaian disebut dijadwalkan pada Minggu, 21 Desember 2025, selepas Ashar. Pertemuan tersebut diinisiasi oleh Hj. Mahdalena, Habib Hamdan, dan Fernando, dengan tujuan membuka ruang komunikasi dan mencari kemungkinan penyelesaian secara persuasif.

Mediasi tersebut bukan dimaksudkan untuk menentukan siapa yang benar atau salah, melainkan sebagai ruang untuk mempertemukan pihak-pihak yang berkepentingan, mengklarifikasi persoalan, sekaligus mencari jalan keluar secara kekeluargaan.

Namun, agenda yang telah direncanakan tersebut kembali tidak terlaksana. Berdasarkan keterangan yang diperoleh, kondisi hujan pada saat itu disebut menjadi salah satu alasan JF tidak menghadiri pertemuan.

Kondisi tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam melihat persoalan secara utuh. Sebab, ketika sebuah upaya mediasi telah beberapa kali dibuka, kronologi mengenai siapa yang menginisiasi, kapan pertemuan dijadwalkan, siapa yang hadir, serta siapa yang tidak hadir menjadi fakta yang penting untuk diketahui sebelum publik menarik kesimpulan.

Jangan sampai fakta dipotong hanya pada bagian tertentu, sementara rangkaian peristiwa lainnya dihilangkan.

Dalam setiap persoalan yang berkembang di tengah masyarakat, penyampaian informasi secara utuh menjadi sangat penting. Terlebih apabila persoalan tersebut berpotensi menimbulkan persepsi, tudingan, atau penilaian publik terhadap pihak-pihak yang terlibat.

Upaya mediasi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa ruang penyelesaian secara damai sebenarnya pernah dibuka. Artinya, sebelum persoalan berkembang menjadi pertarungan opini di ruang publik, masih terdapat ikhtiar untuk mempertemukan para pihak melalui komunikasi dan dialog.

Karena itu, setiap informasi yang disampaikan kepada masyarakat idealnya berpijak pada fakta, kronologi, dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Perbedaan versi atau pandangan tentu dapat terjadi, tetapi perbedaan tersebut semestinya diuji melalui klarifikasi dan bukti, bukan melalui narasi sepihak.

Publik juga memiliki hak untuk mendapatkan informasi yang benar, utuh, dan berimbang. Dalam konteks ini, penting bagi semua pihak untuk tidak terburu-buru membangun kesimpulan sebelum seluruh rangkaian peristiwa diketahui secara jelas.

Pertanyaan sederhananya: kapan upaya mediasi dilakukan, siapa yang menginisiasi, siapa yang hadir, siapa yang tidak hadir, dan apa alasan ketidakhadiran tersebut?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian penting untuk melihat persoalan secara objektif.

Pada akhirnya, kebenaran tidak membutuhkan narasi yang dibengkokkan. Kebenaran membutuhkan fakta, kronologi, klarifikasi, dan bukti.

Jika pintu dialog masih terbuka, maka penyelesaian melalui komunikasi dan musyawarah patut tetap dikedepankan. Sebab, menyelesaikan persoalan dengan fakta dan itikad baik jauh lebih bermartabat daripada memenangkan perdebatan melalui informasi yang tidak utuh.

Jangan bengkokkan fakta. Biarkan kronologi berbicara, biarkan bukti menjelaskan, dan biarkan publik menilai berdasarkan informasi yang lengkap.


 

BIMA, PilarNTB.com — Kebakaran hebat menghanguskan tiga rumah permanen di Dusun Kananga, Desa Tente, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 15.40 WITA. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun kerugian material diperkirakan mencapai sekitar Rp800 juta.

Api pertama kali terlihat dari rumah milik Safarudin (42). Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung berupaya melakukan pemadaman menggunakan peralatan seadanya sembari menghubungi petugas pemadam kebakaran.

Sekitar pukul 15.50 WITA, satu unit armada Damkar Kecamatan Belo tiba di lokasi. Namun, kobaran api telah membesar dan merambat ke dua rumah yang berada di sekitar lokasi, masing-masing milik Syamsudin (60) dan H. Hamzah (62).

Berdasarkan keterangan awal sejumlah warga di lokasi, api diduga berasal dari dalam rumah Safarudin. Warga menduga kebakaran tersebut bukan semata-mata akibat korsleting atau faktor teknis, melainkan terdapat dugaan tindakan pembakaran secara sengaja.

Informasi tersebut masih bersifat dugaan awal. Penyebab pasti kebakaran belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil penyelidikan serta olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh pihak kepolisian.

Situasi di lokasi sempat memanas setelah sejumlah warga yang emosi berupaya melakukan tindakan terhadap Safarudin. Petugas kemudian mengamankan yang bersangkutan guna mencegah terjadinya tindakan main hakim sendiri.

Safarudin selanjutnya dibawa ke Puskesmas Woha untuk mendapatkan penanganan medis. Mengenai kondisi kejiwaan maupun dugaan gangguan jiwa yang dikaitkan dengan dirinya, hal tersebut juga perlu dipastikan berdasarkan pemeriksaan dan keterangan dari pihak yang berwenang.

Upaya pemadaman berlangsung cukup intensif. Sebanyak lima unit armada pemadam kebakaran dikerahkan untuk mengendalikan kobaran api agar tidak merambat ke bangunan lain di sekitar permukiman.

Api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.35 WITA.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, tiga rumah permanen mengalami kerusakan berat hingga ludes terbakar dan kerugian material sementara ditaksir mencapai Rp800 juta.


Pihak kepolisian diharapkan segera melakukan olah TKP dan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi untuk mengungkap secara terang penyebab kebakaran tersebut.

Jika ditemukan adanya unsur kesengajaan, proses hukum tentunya menjadi kewenangan aparat berdasarkan hasil penyelidikan dan alat bukti yang diperoleh.

Di tengah situasi tersebut, masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak melakukan aksi main hakim sendiri. Setiap dugaan pelanggaran hukum harus diserahkan kepada aparat penegak hukum agar ditangani sesuai ketentuan yang berlaku.

PilarNTB.com akan terus mengikuti perkembangan kasus ini dan menyajikan informasi berdasarkan fakta serta keterangan resmi dari pihak berwenang.


 


SONDOSIA, PilarNTB.com — Pemerintah Desa Sondosia menyalurkan bantuan pangan berupa beras kepada masyarakat penerima manfaat untuk periode alokasi Juli–September 2026.Kamis tgl (03/08/2026) Sebanyak 424 Kepala Keluarga (KK) tercatat sebagai penerima manfaat dalam program bantuan pangan tersebut.

Pada penyaluran kali ini, setiap keluarga penerima manfaat memperoleh 30 kilogram beras, yang merupakan alokasi bantuan untuk tiga bulan. Bantuan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga di tengah berbagai kebutuhan ekonomi keluarga.

Proses pengambilan bantuan berlangsung dengan tertib, aman dan kondusif. Masyarakat penerima manfaat mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan sehingga proses penyaluran dapat berjalan lancar tanpa mengganggu aktivitas warga lainnya.

Koordinator Desa (Kordes) Munawir, S.Pd., menyampaikan bahwa penyaluran bantuan pangan ini merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat yang membutuhkan. Ia mengapresiasi seluruh penerima manfaat yang telah mengikuti proses pengambilan bantuan dengan tertib dan penuh tanggung jawab.

“Kami bersyukur penyaluran bantuan pangan ini dapat berjalan dengan baik. Masyarakat sangat tertib dalam mengikuti proses pengambilan. Kami berharap bantuan beras ini benar-benar dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga,” ujar Munawir.

Menurutnya, bantuan tersebut memiliki manfaat yang cukup besar bagi masyarakat penerima. Selain membantu mengurangi beban pengeluaran rumah tangga, bantuan beras juga menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap ketahanan pangan keluarga.

Munawir juga mengajak masyarakat penerima manfaat untuk tetap menjaga ketertiban serta mengikuti seluruh ketentuan dalam setiap proses penyaluran bantuan pemerintah.

“Yang paling penting adalah bantuan ini tepat sasaran dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada masyarakat yang telah menjaga suasana tetap aman, tertib dan kondusif,” tambahnya.

Dengan jumlah 424 KK penerima manfaat, penyaluran bantuan pangan di Desa Sondosia diharapkan mampu memberikan kontribusi positif terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

Program bantuan pangan tidak hanya dipandang sebagai bantuan beras semata, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membantu menjaga ketahanan pangan keluarga, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan dukungan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ketertiban masyarakat selama proses pengambilan juga menjadi gambaran positif bahwa sinergi antara pemerintah desa, petugas pelaksana dan masyarakat dapat menciptakan proses penyaluran bantuan yang aman, transparan dan berjalan sesuai mekanisme.

Pemerintah Desa Sondosia bersama masyarakat berkomitmen menjaga agar setiap program bantuan yang hadir dapat memberikan manfaat nyata dan dirasakan langsung oleh warga.

Penulis Jubair ar-Qamar 

Pimpinan redaksi PilarNTB 

 

MONTA, PilarNTB.Com — Semangat dan antusiasme terlihat dari para siswa SMPN 4 Monta saat mengikuti latihan drumband di halaman sekolah, Kamis (3/9/2026). Dengan penuh konsentrasi, para siswa memainkan berbagai instrumen musik secara bersama-sama, mengikuti arahan guru pembina untuk menghasilkan irama yang kompak dan harmonis.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari pembinaan ekstrakurikuler yang secara rutin dilaksanakan pihak sekolah sebagai upaya memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan potensi, minat, dan bakat di luar kegiatan akademik.

Latihan tidak hanya berorientasi pada kemampuan memainkan alat musik. Lebih dari itu, drumband menjadi salah satu sarana pendidikan karakter yang mengajarkan siswa tentang kedisiplinan, tanggung jawab, kekompakan, konsentrasi, serta kemampuan bekerja sama dalam sebuah tim.

Di bawah bimbingan para guru pembina dan pengawasan langsung Kepala SMPN 4 Monta, Jubaidah, S.Pd., para siswa terus diberikan pendampingan agar mampu meningkatkan keterampilan sekaligus membangun kepercayaan diri.

Dalam setiap sesi latihan, siswa dituntut mampu mengikuti tempo, menjaga ketepatan irama, memperhatikan aba-aba, serta menyesuaikan permainan dengan anggota lainnya. Hal tersebut menjadi proses penting dalam membentuk kekompakan kelompok.

Kepala SMPN 4 Monta, Jubaidah, S.Pd., menyampaikan apresiasi terhadap semangat dan ketekunan para siswa yang mengikuti latihan. Ia juga memberikan penghargaan kepada para guru pembina yang secara konsisten meluangkan waktu untuk mendampingi dan mengembangkan kemampuan peserta didik.

Menurut Jubaidah, kegiatan ekstrakurikuler merupakan bagian penting dalam proses pendidikan karena tidak semua potensi siswa dapat dikembangkan hanya melalui pembelajaran di dalam kelas.

“Kami sangat mendukung penuh kegiatan ekstrakurikuler seperti drumband ini. Selain melatih keterampilan bermusik, siswa juga belajar tentang kerja sama, kekompakan, tanggung jawab dan kedisiplinan sejak dini,” ujar Jubaidah saat meninjau langsung kegiatan latihan.

Ia menambahkan, latihan yang dilakukan secara rutin diharapkan dapat membentuk mental siswa agar lebih percaya diri ketika harus tampil di hadapan masyarakat maupun dalam berbagai kegiatan resmi.

Bagi sekolah, keberadaan kelompok drumband juga diharapkan mampu menjadi salah satu wadah untuk menggali potensi siswa sekaligus membawa nama baik SMPN 4 Monta dalam berbagai kegiatan.

Karena itu, pihak sekolah berkomitmen untuk terus memberikan dukungan terhadap proses pembinaan, baik melalui latihan secara berkala maupun peningkatan kemampuan siswa secara bertahap.

Para siswa pun terlihat menikmati setiap proses latihan. Meski harus mengulang sejumlah pola permainan hingga mendapatkan ritme yang tepat, mereka tetap menunjukkan semangat dan kekompakan.

Dengan latihan yang konsisten serta dukungan penuh dari pihak sekolah dan para guru pembina, kelompok drumband SMPN 4 Monta diharapkan mampu tampil semakin matang dan profesional.

Ke depan, kelompok tersebut ditargetkan tidak hanya tampil dalam kegiatan internal sekolah, tetapi juga dapat ambil bagian dalam berbagai agenda upacara, kegiatan sosial dan kemasyarakatan, peringatan hari besar nasional, hingga ajang perlombaan di tingkat kecamatan maupun Kabupaten Bima.

Kehadiran kegiatan drumband di SMPN 4 Monta menjadi gambaran bahwa pendidikan tidak hanya berbicara mengenai pencapaian akademik. Pengembangan seni, kreativitas, kedisiplinan dan kemampuan bekerja sama juga menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi muda yang memiliki karakter, percaya diri dan mampu berprestasi.

Melalui pembinaan yang berkelanjutan, SMPN 4 Monta optimistis potensi para siswa dapat terus berkembang dan pada waktunya mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki keterampilan, karakter kuat dan prestasi di bidang non-akademik.

(Jubair ar-Qamar)

Diberdayakan oleh Blogger.